Header Ads

Reuter’s Poll : Output Pabrik Jepang Turun Tajam Di Bulan April

Sebuah jajak pendapat dari reuter mengemukakan bahwa output pabrik dan penjualan ritel Jepang untuk bulan April kemungkinan akan mengalami penurunan di laju tercepat dalam beberapa tahun terakhir akibat pandemi virus yang menghantam ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut.

Untuk permintaan dari luar negeri maupun domestik terhadap barang-barang produk Jepang, dinilai telah mengalami kejatuhan di tengah-tengah kebijakan lockdown serta terjadinya gangguan terhadap rantai pasokan, sehingga semakin menambah penilaian bahwa ekonomi Jepang telah jatuh ke dalam jurang resesi di kuartal ini.

Dalam jajak pendapat terhadap 15 ekonom disebutkan bahwa output industri diperkirakan turun 5.1% di bulan April dari penurunan 3.7% di bulan sebelumnya, yang mana ini menjadi penurunan terbesar sejak data ini tersedia pada 2013.

Yusuke Shimoda selaku ekonom senior di Japan Research Institute, mengatakan bahwa pemerintah Jepang mengeluarkan status darurat di bulan April karena dampak pandemi serta terhentinya aktifitas ekonomi global, yang kemungkinan menurunkan laju produksi barang tahan lama dan barang modal.

Sementara itu penjualan ritel diperkirakan turun hingga 11.5% di bulan April dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mencatat penurunan di laju tercepatnya sejak Maret 1998, setelah sebelumnya mencatat revisi penurunan sebesar 4.7% di bulan Maret.

Para analis menilai bahwa semua ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang memerintahkan orang-orang untuk tidak keluar untuk mencegah penyebaran virus, dan department store dan toko-toko lain mengurangi atau untuk sementara waktu menutup bisnis mereka, yang merusak penjualan ritel.

Sedangkan tingkat pengangguran di Jepang terpantau naik menjadi 2.7% di bulan April dari 2.5% di bulan Maret sebelumnya dan rasio antara jumlah pekerjaan dan jumlah pencari kerja juga telah mencatat penurunan hingga ke 1.33 dari 1.39.

Kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami mengatakan bahwa kondisi sektor bisnis memburuk secara signifikan di berbagai bidang, seperti akomodasi, transportasi, restoran dan hiburan, sementara permintaan terhadap tenaga kerja juga telah surut.

Data lain diperkirakan menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti (CPI) Tokyo, yang mencakup produk minyak tetapi tidak termasuk harga makanan segar, kemungkinan turun 0.2% di bulan Mei dari penurunan 0.1% di bulan April, setelah penurunan harga minyak serta dampak pandemi Covid-19 yang menekan harga, terutama di sektor jasa.

Saat ini ekonomi Jepang telah meluncur ke dalam resesi pada kuartal pertama untuk pertama kalinya dalam empat setengah tahun terakhir, sehingga menempatkan Jepang di jalur kemerosotan ekonomi terdalam pasca perang dunia kedua.(WD)

Related posts