Header Ads

Reuter’s Poll : Output Pabrik & Retail Sales Jepang Kemungkinan Kontraksi

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters memperkirakan bahwa output pabrik dan penjualan ritel Jepang pada bulan Mei akan mengalami kontraksi akibat pandemi virus corona, sehingga rantai pasokan mengalami gangguan dan memicu penurunan permintaan domestik dan global secara tajam.

Kemerosotan ekspor dan belanja swasta yang lemah karena krisis kesehatan menggarisbawahi risiko bahwa negara ekonomi terbesar ketiga di dunia itu telah jatuh ke dalam jurang resesi yang dalam dan mungkin hanya akan melihat sedikit pemulihan di paruh kedua tahun ini.

Disebutkan dalam hasil jajak pendapat terhadap 17 ekonom, bahwa pada bulan Mei lalu produksi industri terlihat turun 5.6% dari bulan sebelumnya, mengalami penurunan dalam bulan keempat secara beruntun, setelah sebelumnya juga mengalami penurunan tajam sebesar 9.8% dari hasil revisi di bulan April.

Yoshiki Shinke selaku kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, mengatakan bahwa kondisi iklim untuk produsen tetap buruk karena laju ekspor mengalami penurunan tajam di bulan Mei dan pihaknya memperkirakan output pabrk juga mengalami penurunan terutama di sektor produksi mesin transportasi.

Shinke menambahkan bawa poin-poin penting yang harus diperhatikan untuk saat ini, adalah perkiraan produksi pabrik untuk Juni dan Juli, yang mana aktifitas bisnis selama bulan April hingga akhir Mei mengalami penutupan terkait diberlakukannya kondisi darurat di Jepang yang mendorong warga untuk tetap tinggal di rumah.

Sebuah survei bisnis swasta yang dirilis pada Selasa kemarin menunjukkan bahwa aktivitas pabrik Jepang tetap terjebak pada level terendahnya dalam 11 tahun terakhir pada bulan Juni, bahkan ini terjadi ketika aktivitas sektor jasa meningkat.

Hasil jajak pendapat tersebut juga menunjukkan bahwa penjualan ritel diperkirakan akan mengalami penurunan ke angka 11.6% di bulan Mei dari periode yang sama di tahun sebelumnya, sekaligus mencatat penurunan dalam tiga bulan berturut-turut, setelah mencatat penurunan sebesar 13.9% yang mengalami revisi pada April lalu.

Dalam jajak pendapat tersebut tingkat pengangguran Jepang naik 2.8% pada bulan Mei, yang akan menjadi yang tertinggi sejak Desember 2017, dan rasio pekerjaan untuk pencari pekerjaan jatuh ke 1.23, angka terendah sejak September 2015.

Ekonom senior Japan Research Institute, Yusuke Shimoda mengatakan bahwa orang-orang mungkin mulai mencari pekerjaan di saat sektor bisnis mulai untuk dibuka kembali, namun lingkungan kerja diperkirakan akan semakin memburuk karena perusahaan akan menunda program perekrutan di tengah ketidakpastian yang kuat terhadap prospek ekonomi Jepang.(WD)

Related posts