Header Ads

Reuter’s Poll : Pertumbuhan Cina Akan Melambat Ke Level Terendahnya

Dalam sebiah jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Reuters, median ekonom memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Cina akan mengalami perlambatan hingga ke level terendahnya dalam hampir 30 tahun terakhir di 6.2% pada tahun ini.

Perkiraan ini masih lebih rendah dari perkirakan ekonom di angka 6.3% pada Januari lalu. Adapun dipangkasnya perkiraan pertumbuhan ekonomi Cina akibat dari laju permintaan yang lambat baik itu dari dalam maupun luar negeri, sehingga berpotensi membebani aktivitas ekonomi meskipun pemerintah Cina telah mengeluarkan banyak langkah-langkah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan.

Sementara itu negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut telah mulai menunjukkan sejumlah tanda-tanda stabilnya laju pertumbuhan untuk membentuk opini bahwa momentum ini dapat dipertahankan. Saat ini banyak kalangan yang menilai bahwa kebijakan stimulus sejauh ini lebih terkendali oleh standar pemerintah Cina, yang berarti bahwa laju pemulihan yang lebih bertahap.

Mayoritas dari total 88 lembaga yang disurvei, tidak mengharapkan pertumbuhan keluar dari jalurnya hingga akhir tahun, seiring kondisi moneter yang lebih longgar dan stimulus fiskal yang membutuhkan waktu untuk masuk ke dalam laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus mampu menghidupkan kembali laju permintaan dari pasar domestik.

Kepala ekonom Cina di Nomura, Ting Liu mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan ekonomi Tiongkok akan mengalami perlambatan lebih lanjut di kuartal kedua nanti, akibat ekspor yang kemungkinan masih akan berada di bawah tekanan menyusul memburuknya permintaan global dan tren turun yang masih akan menimpa pasar properti, di tengah sulitnya tingkat konsumsi untuk permintaan barang tahan lama.

Perkiraan pertumbuhan selama tahun ini di kisaran 6.2%, masih berpotensi lebih lemah seiring pemerintah Cina yang menargetkan pertumbuhan di kisaran 6.0% hingga 6.5% di tahun ini. Dengan demikian kisaran angka pertumbuhan tersebut akan menandai laju pertumbuhan ekonomi Cina yang paling lemah dalam 29 tahun, menyusul perlambatan beruntun dari 6.8% di 2017 menjadi 6.6% pada tahun 2018 lalu.

Pertumbuhan ekonomi Cina di kuartal pertama terlihat mengalami penurunan menjadi 6.3% dari tahun sebelumnya, yang mana angka ini sesuai dengan jajak pendapat sebelumnya, dari pertumbuhan selama kuartal keempat 2018 di 6.4%, yang mencatat laju terlemahnya sejak krisis keuangan global.

Pihak Beijing telah meningkatkan stimulus fiskal di tahun ini, mengumumkan lebih banyak pengeluaran untuk jalan, kereta api dan pelabuhan serta ditambah lagi dengan pemangkasan pajak hingga tiliunan Yuan untuk mengurangi tekanan terhadap neraca perusahaan. Para investor berharap adanya lebih banyak tanda-tanda pemulihan ekonomi di Cina untuk meredam kekhawatiran mengnai perlambatan pertumbuhan global, pasca lembaga IMF memangkas prospek pertumbuhan global untuk ketiga kalinya dengan mengutip ketegangan perdagangan antara AS dengan Cina.

Para analis memperkirakan bahwa bank sentral Cina akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut di tahun ini, guna memacu tingkat pinjaman serta sekaligus mengurangi risiko perlambatan yang lebih tajam. Namun mereka tidak mengharapkan adanya kebijakan penurunan suku bunga acuan pinjaman, yang mana hal ini akan berisiko terhadap bertambahnya hutang yang tersisa dari program stimulus di masa sebelumnya.

Dalam jajak pendapat disebutkan pula bahwa inflasi konsumen di tingkat tahunan akan terbatas di kisaran 2.1%, lebih rendah dari perkiraan 2.3% dalam survei di Januari lalu.(WD)

Related posts