Header Ads

Reuter’s Poll : Produksi Industri Jepang Naik

Hasil jajak pendapat dari Reuters mengemukakan bahwa laju produksi industri Jepang untuk bulan Januari kemungkinan akan mengalami pertumbuhan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, seiring meningkatnya aktifitas manufaktur global sehingga mencerminkan harapan bagi ekonomi Jepang yang terpuruk akibat pandemi virus.

Namun para ekonom dalam jajak pendapat tersebut justru memperkirakan laju penjualan ritel, yang dipakai sebagai acuan utama bagi belanja konsumen, kemungkinan akan mengalami kontraksi dalam dua bulan secara beruntun, yang tetap menggambarkan dampak pandemi yang terus mengurangi laju konsumsi.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa ekonomi Jepang akan mengalami penyusutan di periode kuartal pertama tahun ini, akibat dampak kondisi darurat lokal di sejumlah daerah, termasuk Tokyo sebagai upaya untuk menahan lonjakan kasus virus corona yang melanda sektor bisnis dan konsumen.

Disebutkan bahwa 18 ekonom dalam jajak pendapat memperkirakan bahwa output pabrik Jepang akan mengalami kenaikan sebesar 4.0% di bulan Januari dari bulan sebelumnya, mengalami rebound dari revisi penurunan 1.0% di bulan Desember lalu.

Terkait akan hal ini salah seorang ekonom di Mizuho Research Institute, Daichi Kawabata mengatakan bahwa output pabrik dari mesin produk, suku cadang dan perangkat elektronik yang kemungkinan besar tumbuh karena meningkatnya ekspor barang modal dan semikonduktor.

Selain itu para analis juga mengatakan bahwa pemuatan awal produksi sebelum liburan Tahun Baru Imlek dinilai juga telah membantu meningkatkan produksi pabrik Jepang.

Untuk penjualan ritel Jepang selama bulan Januari diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 2.6% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah mencatat penurunan 0.2% yang direvisi di bulan Desember.

Kebijakan pembatasan baru dari pemerintah Jepang untuk menahan kasus Covid-19 kemungkinan akan memangkas laju penjualan di department store dan supermarket karena para konsumen memilih untuk menghindari pergi berbelanja.

Jajak pendapat tersebut juga menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti Tokyo, yang mencakup produk minyak namun tidak termasuk harga makanan segar, akan mengalami penurunan sebesar 0.4% di bulan Februari dibandingkan tahun sebelumnya akibat dari biaya energi yang megalami penurunan.(WD)

Related posts