Header Ads

Reuter’s Poll : RBA Akan Mempertahankan Suku Bunga Di Rekor Rendahnya

Sebuah jajak pendapat oleh Reuters menyebutkan bahwa bank sentral Australia sudah pasti akan mempertahankan tingkat suku bunga di rekor rendahnya 1% pada pekan depan, meskipun kemungkinan akan kembali melakukan dua kali pemangkasan untuk meningkatkan inflasi dan mendukung laju ekonomi Australia.

Reserve Bank of Australia (RBA) memotong suku bunga acuan dua kali sejak Juni, berdasarkan tingkat pengangguran yang naik lebih tinggi secara perlahan. Kebijakan pemangkasan suku bunga tersebut telah mendorong bank sentral untuk menurunkan suku bunga hipotek, sehingga membantu memicu kebangkitan kembali pasar perumahan di negara tersebut.

Pemerintah Perdana Menteri Scott Morrison juga ikut menawarkan potongan pajak kepada jutaan rumah tangga dalam upaya memacu pengeluaran konsumen. Sebanyak 35 dari 36 ekonom yang disurvei oleh Reuters, mengharapkan RBA akan mempertahankan suku bunga di pertemuan bulanan awal September nanti.

Mayoritas dari para ekonom tersebut memperkirakan setidaknya satu pemangkasan suku bunga menjadi 0.75% di kuartal terakhir tahun ini, dibandingkan dengan 27 dari 40 ekonom dalam jajak pendapat di bulan Juli lalu. Dalam jajak pendapat di bulan Juli tersebut, Standard Chartered dan Goldman Sachs memprediksi suku bunga di 0.50%.

Pada hari Selasa kemarin, Deputi Gubernur RBA, Guy Debelle mengatakan bahwa bank sentral akan mempertimangkan opsi kebijakan moneter yang tidak konvensional jika tingkat suku bunga dipangkas menjadi 0.5%, meskipun dirinya berharap bahwa penyesuaian kebijakan yang berat tersebut tidak perlu diambil. Dengan demikian lebih dari 80% ekonom yang disurvei memperkirakan kebijakan suku bunga 0.5% hingga akhir tahun 2020 mendatang.

Kepala ekonom di AMP, Shane Oliver mengatakan bahwa probabilitas langkah-langkah yang tidak konvensional di tahun depan akan meningkat dan suku bunga negatif nampaknya tidak akan diambil oleh RBA, akan tetapi pelonggaran kuantitatif kemungkinan akan menjadi salah satu opsi, yang mana hal ini akan melibatkan pemerintah untuk bekerja sama memberikan dukungan fiskal.

Tingkat risiko ekonomi telah meningkat selama setahun terakhir, dengan pertumbuhan yang melambat, inflasi yang cenderung lambat, pasar properti yang goyah, dan tingkat pengangguran yang semakin tinggi. Dengan demikian RBA mengharapkan laju ekonomi Australia mulai menghasilkan tekanan upah hanya disaat tingkat pengangguran turun menjadi 4.5% atau lebih rendah dari 5.2% saat ini.

Sedangkan Paul Bloxham selaku kepala ekonom HSBC menilai bahwa pertumbuhan upah yang rendah akan mendatangkan tantangan bagi RBA untuk dapat mencapai target inflasi di kisaran 2-3%, sehingga dalam hal ini ekonom melihat adanya pemangkasan suku bunga lebih lanjut di kuartal mendatang.(WD)

Related posts