Header Ads

Reuters’s Poll : Ekspor Jepang Bulan Februari Diperkirakan Melemah

Sebuah jajak pendapat dari Reuters menyebutkan bahwa laju ekspor Jepang di bulan Februari, kemungkinan besar akan berada dalam laju yang jauh lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya, namun permintaan global yang lemah serta masih adanya gesekan perdagangan antara AS-Cina sepertinya mengaburkan prospek ekspor di negara tersebut.

Dalam survei terhadap 17 ekonom disebutkan bahwa laju ekspor Jepang selama bulan Februari diperkirakan akan merosot sebesar 0.9% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah sebelumnya jatuh 8.4% di bulan Januari, yang merupakan penurunan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhirnya. Sementara untuk laju impor kemungkinan akan mengalami penurunan yang lebih tajam di kisaran 5.8% di bulan Februari, setelah mencatat penurunan 0.6% pada bulan Januari sebelumnya.

Takumi Tsunoda, ekonom senior di Shinkin Central Bank Research Institute, mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan bahwa laju ekspor di bulan Februari, akan mampu menebus sebagian kerugian yang diderita oleh sektor tersebut pada bulan Januari akibat liburan Tahun Baru Imlek. Liburan menyambut Tahun Baru Imlek, menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan bisnis yang signifikan di sebagian besar kawasan di Asia. Lebih jauh Tsunoda mengatakan bahwa meskipun demikian ekspor Jepang ke sejumlah pasar di negara kawasan Asia, terutama pengiriman produk IT, diperkirakan masih akan tetap lemah.

Untuk Neraca Perdagangan kemungkinan masih akan mencatat surplus sebesar 310.2 milliar Yen ($2.78 milliar), dari defisiti sebelumnya sebesar 1.41 triliun Yen pada bulan Januari. Laju perdagangan global telah mengalami perlambatan di tengah pertumbuhan yang lebih lemah di kawasan Eropa dan Cina, serta ditambah dengan masih adanya perang kebijakan tarif antara Beijing dengan Washington, sehingga semakin menambah beban kepada ekonomi Jepang yang sangat tergantung kepada sektor ekspornya.

Sedangkan mengenai laju inflasi, indeks harga konsumen inti Jepang yang mencakup produk-produk minyak, namun tidak termasuk biaya untuk produk makanan segar, diperkirakan naik 0.8% di bulan Februari. Shinichiro Kobayashi, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, menilai bahwa harga energi kemungkinan akan memberikan dukungan bagi CPI inti Jepang, sementara harga bensin dan telekomunikasi masih memberikan beban bagi inflasi inti, yang diperkirakan masih akan melaju dengan lemah untuk sementara waktu, akibat dari penurunan harga minyak serta pemangkasan biaya telepon dari perusahaan operator telekomunikasi.

Sebelumnya pada hari ini dilaporkan bahwa Bank of Japan tetap mempertahankan pengaturan kebijakan moneternya tetap stabil, namun sedikit menahan optimisme bahwa ekspor yang kuat dan output pabrik akan memberikan dukungan bagi pertumbuhan, di tengah meningkatnya risiko luar negeri yang berpotensi memberikan hambatan bagi laju pemulihan ekonomi yang telah rapuh.(WD)

Related posts