Risk Appetite Benamkan Greenback

Para investor telah meningkatkan taruhan terhadap laju pemulihan ekonomi global dan hal ini telah meningkatkan minat pasar terhadap aset berisiko, sehingga nilai tukar greenback tergelincir ke level terendah tiga tahun terhadap Poundsterling sekaligus melemah terhadap mata uang komoditas di sesi perdagangan waktu Asia hari ini.

Mata uang Dollar Selandia Baru sempat melemah dalam beberapa waktu namun mampu bergerak stabil kembali setelah Reserve Bank of New Zealand memutuskan untuk menahan kebijakan moneternya seraya mengatakan bahwa laju inflasi dan tenaga kerja akan tetap di bawah target dalam jangka menengah.

Bank sentral Selandia Baru menunjukkan sejumlah sikap hati-hati terhadap prospek ekonominya, yang mana hal ini mungkin telah mengecewakan kalangan pelaku pasar yang mengharapkan RBNZ untuk mengakui adanya sejumlah perbaikan data ekonomi baru-baru ini.

Sebelumnya Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan bahwa suku bunga akan tetap rendah dan The Fed akan terus melakukan pembelian obligasi guna mendukung ekonomi AS, sehingga sejumlah kalangan pasar menilai bahwa ini menjadi faktor negatif bagi Dollar dalam jangka panjang.

Powell telah menolak sejumlah saran bahwa kebijakan moneter yang longgar akan mengarah kepada tingginya laju inflasi serta bubbling di sektor keuangan, yang keduanya menjadi isu utama di tahun ini, seiring adanya sikap skeptis yang berkembang mengenai kenaikan saham global dalam laju yang cepat.

Selain itu beban yang menimpa pergerakan greenback datang dari faktor lebih banyaknya aksi pembelian yang mengalir ke mata uang yang dianggap mendapat manfaat dari peningkatan perdagangan global serta banyaknya aliran uang ke negara-negara yang mampu bangkit kembali dari dampak pandemi Covid-19 dalam waktu yang lebih cepat.

Junichi Ishikawa selaku ahli strategi valuta asing di IG Securities, mengatakan bahwa tanda-tanda pemulihan ekonomi telah mengangkat harga komoditas, yang pada gilirannya akan mendukung mata uang eksportir komoditas dan selain itu selera risiko juga mengalami peningkatan pesat sehingga hal ini membuat Dollar berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.(WD)

Related posts