Rupiah Melemah Tajam Terhadap US Dollar

Mata uang Rupiah Indonesia terpantau mengalami kejatuhan tajam, bahkan penurunan ini menentang intervensi pasar dari bank sentral yang intens.

Penurunan ini juga diakibatkan oleh meningkatnya permintaan terhadap Dollar dari perusahaan yang ditetapkan untuk mengembalikan dividen kepada pemegang sahamnya.

Para investor asing mengadopsi pendekatan ” flight-to-quality”, bahkan tingkat pengembalian yang tinggi terhadap aset obligasi pemerintah Indonesia, dinilai oleh head of treasury Maybank Indonesia I Made Budhi Purnama Artha tidak akan mampu menghentikan arus keluar.

Beliau juga mengatakan bahwa Bank Indonesia harus memompa lebih banyak Dollar untuk mencegah Rupiah dari penurunan lebih lanjut dan sekaligus melindungi kepercayaan investor.

Rupiah telah berubah dari mata uang berkinerja terbaik di Asia pada Januari menjadi yang terburuk dalam sebulan terakhir karena aksi jual global yang dipicu oleh kekhawatiran virus corona yang semakin luas.

Pada sesi perdagangan Selasa kemarin, nilai Rupiah melemah hingga ke 15.000 per Dollar untuk pertama kalinya sejak kemunduran pasar negara berkembang di tahun 2018, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahkan cadangan devisa hampir mendekati rekornya dan intervensi bank sentral secara besar-besaran kemungkinan gagal untuk meredakan kekacauan.

Hingga saat ini para investor asing telah menarik lebih dari $4 milliar dari obligasi Rupiah tahun ini, dan tentu saja mencatat arus keluar terbesar di periode kuartal pertama.

Selain itu mereka juga tercatat telah membuang posisi saham mereka hingga $600 juta yang berkontribusi terhadap penghentian perdagangan untuk ketiga kalinya dalam seminggu terakhir.

Dengan sentimen risk-off memandu investor, penurunan suku bunga yang diharapkan pada hari Kamis mungkin tidak banyak berpengaruh untuk membalikkan sell-off.

Obligasi Indonesia adalah barometer minat risiko dengan investor asing memiliki sekitar 35% dari total obligasi Rupiah.

Josua Pardede selaku ekonom di PT Bank Permata, mengatakan bahwa penguatan Dollar AS terhadap Rupiah dan mata uang emerging markets lainnya dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global yang tengah mengantisipasi wabah COVID-19, setelah dinyatakan sebagai pandemi global.

Selain itu respon yang agresif dari bank sentral AS juga telah memberikan sinyal negatif terhadap pasar keuangan di emerging markets, termasuk pasar modal Indonesia.(WD)

Related posts