Header Ads

Seiji Adachi Dicalonkan Menduduki Kursi Dewan Kebijakan BoJ

Salah seorang ekonom Jepang yang dikenal mendukung Bank of Japan untuk menerapkan pelonggaran kebijakan moneter yang agresif, Seiji Adachi dinominasikan oleh pemerintah untuk bergabung sebagai sembilan anggota dewan kebijakan bank sentral Jepang.

Nominasi ini kemungkinan akan memperkuat ekspektasi pasar bank sentral akan mempertahankan program stimulus besar-besaran untuk mencerminkan ekonomi dan meningkatkan inflasi ke target 2%.

Seiji Adachi adalah seorang ekonom di Marusan Securities Jepang, digadang-gadang akan menggantikan Yutaka Harada yang akan berakhir masa jabatannya pada 25 maret mendatang.

Adachi merupakan salah satu diantara kelompok ekonom yang menunjukkan dukungannya terhadap program pembelian aset besarn-besaran dari Gubernur Haruhiko Kuroda sejak 2013 lalu untuk mengeluarkan Jepang dari jurang deflasi. terkait pencalonan ini,

Hiroshi Ugai selaku kepala ekonom di JPMorgan Securities Jepang mengatakan bahwa sikap Adachi terhadap kebijakan moneter cukup dekat dengan Harda sebagai pendahulunya, yang mana hal ini tidak akan mengubah prospek kebijakan dari Bank of Japan kedepannya.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Nikkei Jepang pada tahun 2017, Adachi mengatakan bahwa Bank of Japan harus membeli obligasi asing atau mempercepat laju pembelian dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) untuk menopang laju inflasi, sembari menentang kebijakan memperdalam suku bunga ke kisaran negatifnya.

Bank sentral hingga kini terus memandu suku bunga jangka pendeknya di kisaran minus 0.1% dan menjaga yield obligasi pemerintah di kisaran 0%, dibawah kebijakan yang dijuluki yield curve control.

Selain itu BoJ masih melakukan pembelian obligasi pemerintah serta aset berisiko lainnya seperti ETF sebagai bagian dari langkah mereka untuk menyuntikkan dana segar ke ekonominya.

Namun demikian pilihan pemerintah terhadap Adachi ini harus mendapatkan persetujuan dari kedua majelis parlemen Jepang, yang sepertinya akan berjalan lancar mengingat partai dari Perdana Menteri Shinzo Abe menduduki mayoritas kursi di kedua majelis tersebut.

Dengan tekanan risiko global yang membebani ekonomi Jepang serta laju inflai dibawah target untuk saat ini, maka para pelaku pasar mengharapkan Bank of Japan untuk tetap menjaga kebijakan moneter stabil di masa mendatang sehingga mampu membantu mendukung upaya pemulihan ekonomi yang rapuh.(WD)

Related posts