Sentimen Perdagangan Global Melemahkan Laju Aktivitas Pabrik Di Asia

Aktivitas pabrik di hampir seluruh negara-negara di Asia mengalami penyusutan di bulan Juni, seiring masih belum pastinya waktu kesepakatan perdagangan antara AS-Cina, sehingga belum mampu meredakan tekanan di sektor manufaktur di kawasan Asia guna menetapkan langkah-langkah yang lebih kuat untuk mencegah resesi global.

Meskipun pembicaraan antar kedua pemimpin AS-Cina akan berlanjut, seiring konsesi ditundanya kebijakan kenaikan tarif sekaligus pelonggaran pembatasan terhadap Huawei yang ditawarkan oleh Presiden Trump, namun belum adanya petunjuk mengenai pembahasan perbedaan secara konseptual, termasuk yang menyangkut nilai tukar Yuan, membuat pasar semakin khawatir terhadap belum tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Yoshiki Shinke, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo, mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk merasa optimis menyusul tidak adanya kepastian langkah dari keduanya dan belum diketahui seperti apa nanti kesepakatan yang tercapai.

Shinke menilai bahwa aktivitas manufaktur global belum mencapai titik terendahnya, akan tetapi melemahnya tingkat kepercayaan bisnis, terutama sektor manufaktur, berpotensi melukai laju ekonomi dunia jika hal tersebut berlanjut saat memasuki paruh kedua.

Indeks Pembelian Manajer Caixin / Markit Manufacturing (PMI) Cina berada di level 49.4, jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar dan sekaligus mencatat angka terburuknya sejak awal tahun. Sebagai mesin ekonomi di Asia, perlambatan di Cina dinilai menjadi penyebab terbesar melambatnya laju pertumbuhan di kawasan tersebut.

Sementara itu sebuah survei dari Bank of Japan menunjukkan kepercayaan produsen besar mencapai level terendah tiga tahun dekat, sehingga semakin menekan bank sentral tersebut untuk tetap mempertahankan kebijakan super longgar, bahkan meningkatkan stimulus mereka secara besar-besaran.

Di Korea Selatan, aktivitas pabrik menyusut pada laju tercepat dalam empat bulan di bulan Juni lalu, menyusul semakin melambatnya laju perdagangan global, yang meningkatkan pemangkasan produksi perusahaan.

Demikian juga dengan India dan Indonesia yang mana sektor pabrikan tidak terlalu bergantung kepada permintaan eksternal, laju aktivitas cenderung melambat meskipun terus menunjukkan pertumbuhan.

Sedangkan di Taiwan dan Malaysia, dampak konflik perdagangan AS-Cina telah menimbulkan tekanan turun terhadap aktivitas manufaktur di kedua negara tersebut.

Akan tetapi aktivitas pabrik di Vietnam justru berkembang dalam laju yang lebih cepat, meskipun pertumbuhan pesanan baru berjalan dalam laju yang paling lambat sejak Februari lalu.

Namun demikian secara keseluruhan ekonomi di Asia Tenggara mampu memanfaatkan trade war yang terjadi, karena sektor pabrik mengalihkan operasional mereka di Cina ke sejumlah negara di Asia Tenggara guna menghindari kebijakan tarif AS.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Christine Lagarde menyambut baik dimulainya kembali perundingan perdagangan antara kedua negara, namun beliau memperingatkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk menstabilkan kembali pertumbuhan global yang saat ini telah masuk fase memburuk.

Kekhawatiran yang meningkat terhadap pertumbuhan global telah memaksa sejumlah bank sentral di Asia menurunkan suku bunga acuannya, seperti yang terjadi di Australia, Selandia Baru dan India.(WD)

Related posts