Sentimen Sektor Jasa Jepang Naik Ke Level Tertinggi

Sebuah data dari pemerintah Jepang menunjukkan bahwa sentimen sektor jasa Jepang mencatat kenaikan hingga ke level tertingginya dalam dua setengah tahun terakhir, yang mana data ini menunjukkan bahwa ekonomi akan pulih secara bertahap dari dampak pandemi virus corona yang menghancurkan.

Sebuah survei terhadap pekerja seperti supir taksi, pekerja hotel dan staf restoran telah menunjukkan kepercayaan mereka tentang kondisi ekonomi saat ini tumbuh 5.4 poin dari Agustus menjadi 49.3 pada bulan September, dan survei terhadap pelaku di sektor tersebut dinilai dekat dengan tren konsumen dan ritel.

Angka tersebut merupakan level tertingginya sejak April 2018 lalu dan peningkatan dalam lima bulan berturut-turut menjadi pertanda baik bagi upaya pemerintah untuk mencegah resesi yang dipicu pandemi semakin dalam.

Hasil survei menyebutkan bahwa meski kondisinya masih parah akibat pandemi, namun sentimen justru membaik, dan sementara masih ada kekhawatiran atas pandemi maka sentimen kemungkinan akan terus mengalami pemulihan.

Sementara sebuah survei swasta terpisah menunjukkan bahwa gelontoran dana yang dipompa keluar oleh pemerintah Jepang dan bank sentral telah membuat pihak korporasi tetap bertahan untuk saat ini, meskipun laju penjualan mengalami pukulan akibat pandemi Covid-19.

Lembaga think tank swasta Teikoku Databank menunjukkan bahwa pada periode paruh pertama tahun fiskal yang dimulai pada bulan April lalu, jumlah kebangkrutan perusahaan mencapai 3956 kasus, atau turun sekitar 5.2% dari periode yang sama di tahun lalu dan mencatat level terendah dalam hampir 16 tahun.

Laporan dari lembaga tersebut juga menunjukkan bahwa total kewajiban untuk perusahaan yang berada di bawah mencapai 601.25 milliar Yen ($5.67 milliar), yang merupakan level terendah kedua dalam catatan.

Seperti diketahui bahwa Bank of Japan telah meningkatkan stimulus dua kali sepanjang tahun ini dan menciptakan fasilitas pinjaman untuk menyalurkan dana melalui bank ke perusahaan-perusahaan kecil yang kekurangan dana.

Selain itu pihak pemerintah Jepang juga telah mengerahkan dua paket pengeluaran besar-besaran sekaligus juga menawarkan pinjaman murah yang didukung oleh para pemberi pinjaman yang berafiliasi dengan negara bagian untuk membantu perusahaan mengatasi hantaman yang terjadi akibat krisis kesehatan.

Pada periode kuartal kedua laju pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami kemerosotan terbesar dalam catatan, yang diakibatkan oleh pandemi yang melumpuhkan laju permintaan, sehingga para analis memperkirakan bahwa rebound akan tetap berjalan secara moderat seiring kekhawatiran terhadap gelombang kedua infeksi yang menimbulkan beban bagi sektor konsumsi.(WD)

Related posts