Header Ads

Seoul Akan Memangkas Biaya Impor Tambahan Untuk Komoditas LNG

Pemerintah Korea Selatan berencana untuk mengurangi secara tajam biaya impor untuk komoditi gas alam cair (LNG), disamping pemangkasan pajak penjualan. Pengurangan ini akan membuat pajak untuk LNG akan menjadi lebih murah dibandingkan pajak untuk komoditas batubara, yang bertujuan untuk memacu migrasi ke bahan bakar yang lebih bersih dalam upaya untuk memerangi polusi udara yang semakin buruk.

Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi mengusulkan untuk memangkas biaya tambahan untuk impor komoditi LNG ke pembangkit listrik, dari sebelumnya sebesar 24.2 Won untuk saat ini menjadi 3.8 Won per kilogram. Sementara itu kode pajak yang direvisi, telah mendapat persetujuan dari para anggota Dewan Negara dan akan mulai diberlakukan pada 1 April mendatang.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan LNG, yang sejauh ini telah dikenakan pajak yang lebih berat dibandingkan komoditas bahan bakar fosil. Biaya untuk dampak lingkungan dari LNG memang hanya setengah dari batubara, karena tingkat emisinya yang renda. Namun total pungutan dari pajaknya, termasuk pajak konsumsi khusus, biaya tambahan impor dan tarif, telah mencapai 91.4 Won atau berjumlah lebih dari dua kali lipat dari yang dihasilkan oleh batubara sebesar 36 Won.

Pemangkasan biaya tambahan impor untuk LNG, dilakukan diatas pelonggaran pajak khusus di bulan Juli tahun lalu, akan menjadikan total retribusi LNG menjadi 23 Won dari 91.4 Won sebelumnya. Sementara itu hasil dari batubara thermal akan dinaikkan menjadi 46 Won dari 36 Won sebelumnya, yang mana hal ini sejalan dengan tingkat emisi polutan dari batubara itu sendiri.

Pemerintahan Seoul memperkirakan bahwa penerepan pajak baru untuk membantu mengurangi timbulnya 427 ton partikel ultrafine per tahun, yang dampaknya diserap langsung ke dalam aliran darah dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang sangat serius.

Komoditas LNG yang digunakan dalam pembangkit cogeneration, atau gabungan antara pemanas dan pembangkit listrik, akan mendapatkan manfaat dari penggantian pajak secara penuh, karena beroperasi di tingkat efisiensi energi yang lebih tinggi secara signifikan, sekitar 30 poin persentase lebih tinggi dari pembangkit listrik konvensional.

Korea Selatan saat ini mengandalkan 40% pasokan listriknya dari komoditas batubara. Sedangkan komoditas LNG berkontribusi kurang dari 20%, reaktor nuklir menyumbang sekitar 30% dan dari sumber terbarukan seperti energi sinar matahari, angin dan fuel cell hanya berkontribusi sekitar 10% bagi pengadaan listrik di negeri ginseng tersebut.(WD)

Related posts