Header Ads

Shinzo Abe Bertolak Ke Beijing Guna Menjalin Hubungan Yang Lebih Erat Dengan Cina

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe bertolak ke Beijing untuk melakukan lawatannya yang pertama kali sejak tujuh tahun belakangan, untuk melakukan pertemuan bilateral dengan para pemimpin Cina guna membangun kembali hubungan keduanya berdasarkan latar belakang terjadinya friksi perdagangan antara dengan Washington. Jepang sangat menginginkan hubungan ekonomi yang lancar dengan Cina selaku mitra dagang terbesarnya.

Seperti diketahui bahwa sejak PM Shinzo Abe kembali berkuasa pada tahun 2012, hubungan diantara kedua negara mengalami gangguan seiring perseteruan terhadap sejumlah pulau di kawasan Laut China Timur. Sebelumnya Abe juga telah bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping di sela-sela KTT yang berlangsung di Beijing pada 2014 lalu. Namun pertemuan ini menjadi agenda penuh keduanya sejak tujuh tahun lalu.

Shinzo Abe dijadwalkan akan bertemu dengan Perdana Menteri Cina, Li Keqiang pada hari ini sekaligus menghadiri resepsi untuk menandai 40 tahun perjanjian perdamaian dan persahabatan diantara kedua negara. Dalam hal ini diperlukan banyak kesepakatan, mulai dari pengaturan pertukaran mata uang, dialog mengenai inovasi dan perlindungan hak milik intelektual hingga perbincangan mengenai kerjasama komunikasi yang lebih baik di sektor militer kedua negara.

Pihak Jepang berharap adanya pencapaian kemajuan dalam implementasi kesepakatan di tahun 2008 mengenai pengembangan ladang gas secara bersama di perairan yang menjadi sengketa selama ini, serta menginginkan Cina untuk mengurangi batas impor produknya dari area yang terkena dampak bencana nuklir di wilayah Fukushima. Dalam lawatan tersebut juga akan diadakan sebuah forum bisnis mengenai kerjasama di sektor swasta di negara-negara dunia ketiga, yang diperkirakan akan menghasilkan sekitar 50 perjanjian yang tidak mengikat, termasuk satu proyek keduanya di Thailand.

Selain itu pihak Beijing berharap Abe akan membuat pernyataan yang positif mengenai rencana program Belt & Road, yang merupakan sebuah program untuk mendanai dan membangun jaringan transportasi serta perdagangan di lebih dari 60 negara. Pernyataan positif ini diharapkan mampu membantu citra dari program tersebut sekaligus menghilangkan ketakutan dari negara-negara debitur.

Sementara itu para pejabat pertahanan Jepang sangat berhati-hati terhadap implikasi militer mereka, untuk mendorong terciptanya Free and Open Pacific Strategy guna mempromosikan sektor perdagangan dan infrastruktur di Asia, Afrika dan Timur Tengah. Sebelumnya Jepang selalu mewaspadai pembelanjaan militer Cina serta dominasi mereka di Laut Cina Selatan , yang selama ini menjadi jalur perdagangan bagi Jepang.(WD)

Related posts