S&P Global Ratings Memangkas Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi AS

Wabah virus corona yang menyebar dengan cepat dan kemungkinan akan menjadi “angin sakal” bagi ekonomi AS dengan potensi tekanan yang lebih lama dan lebih dalam dari yang diantisipasi sebelumnya, sebagai alasan S&P Global Ratings memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS ditahun ini.

Epidemi ini menjerumuskan ekonomi dunia ke dalam penurunan terburuk sejak krisis keuangan global lebih dari 10 tahun yang lalu, kata Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan memperingatkan pada hari Senin dan mendesak pemerintah dan bank sentral untuk berjuang kembali untuk menghindari kemerosotan yang bahkan lebih curam.

Dalam upaya untuk melindungi ekonomi terbesar dunia dari virus corona, Federal Reserve AS pada Selasa memangkas suku bunga setengah persen poin ke kisaran target 1.00% hingga 1.25%. Juga pada hari Selasa, bank sentral Australia juga memangkas suku bunga ke rekor terendah 0.5%.

S&P sebelumnya memperkirakan pertumbuhan GDP pada kuartal pertama akan lebih dekat ke 1% dari perkiraan sebelumnya sebesar 2.2% sebelum wabah virus, dengan pemulihan di kuartal berikutnya.

Namun sekarang ia memperkirakan pertumbuhan kuartal kedua juga akan mendekati 1%, kata kepala ekonom S&P AS Beth Ann Bovina dalam sebuah catatan.

“Kami tidak tahu sejauh mana durasi virus, dan kami juga tidak tahu hambatan apa yang mungkin terjadi,” tulisnya.

“Dengan demikian, pembaruan ramalan ini didasarkan pada keyakinan kami yang berkembang bahwa ‘angin sakal’ pada pertumbuhan ekonomi AS kemungkinan akan berlanjut ke kuartal kedua dan bisa lebih buruk dari perkiraan kami sebelumnya.”

Perkiraan tersebut juga mencerminkan penangguhan produksi dan ekspor Boeing 737 MAX, tambahnya.

Pukulan terhadap pertumbuhan AS akan datang melalui lima saluran utama – gangguan terhadap perjalanan dan pariwisata, melemahnya permintaan dari Cina dan seluruh dunia, gangguan pada rantai pasokan, berkurangnya belanja swasta dan harga komoditas yang lebih rendah.

Cina adalah mitra dagang terbesar ketiga Amerika Serikat, yang merupakan 13.5% dari total perdagangan dengan negara tersebut.

“Jelas itu akan lebih menjadi masalah dari perspektif atas rantai pasokan (impor) daripada ekspor karena eksposur ekspor Amerika ke Cina sebagai bagian dari PDB hanya 0,6% sementara impor dari Cina membentuk hampir 3% dari PDB,” Bovina menambahkan.

Related posts