S&P Memangkas Prospek Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan

Lembaga pemeringkat kredit global Standard and Poor’s (S&P) telah merevisi turun prospek pertumbuhan ekonomi Korea Selatan di tahun ini menjadi 2.0% dari 2.4%, sehingga menambah penilaian negatif terhadap negara ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut.

Dalam sebuah laporannya agensi tersebut mengatakan bahwa tingkat inventaris tinggi, terutama di sektor elektronik serta meningkatnya ketidakpastian mengenai prospek perdagangan global, akan terus membebani produksi dan investasi swasta, sementara itu pasar tenaga kerja masih relatif lemah, sehingga mengarah kepada tingkat konsumsi yang akan semakin lemah.

S&P memperkirakan bahwa Bank of Korea akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 0,25 poin persentase dalam tahun ini, sementara indeks harga konsumen (CPI) negara itu akan mencapai 1.1% di tahun ini dan 1.5% di tahun depan. S&P juga memangkas perkiraan untuk produk domestik bruto Korea Selatan untuk kedua kalinya sejak April lalu, saat memangkas laju pertumbuhan dari 2.5% menjadi 2.4%, serta menurunkan prospek pertumbuhan di Asia Pasifik menjadi 5.1% di tahun ini dan 5.2% di tahun depan.

Dalam sebuah laporan terpisah, lembaga S&P juga mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak 2014, kualitas kredit dari sebanyak 200 perusahaan teratas Korea Selatan telah mengalami pelemahan sebagai akibat dari kenaikan tingkat hutang dan pendapatan yang macet pada tahun 2018 lalu.

Selain itu diperkirakan bahwa perusahaan Korea Selatan akan mengalami tekanan terhadap kualitas kredit mereka selama 12 bulan kedepan, seiring perlambatan ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan, kebijakan keuangan yang agresif dengan meningkatnya pengeluaran modal serta pengembalian kepada pemegang saham dan risiko peraturan pemerintanh yang ketat.

Lembaga pemeringkat tersebut juga memperkirakan indikator ekonomi makro yang mengalami perlambatan di Cina, AS, Eurozone dan Korea Selatan, mengingat bahwa prospek pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini yang mengalami perlambatan.

Disebutkan pula bahwa sejumlah hambatan termasuk perlambatan laju permintaan dan meningkatnya ketegangan perdagangan akan menimbulkan beban operasional perusahaan di Korea Selatan untuk 12 bulan berikutnya. S&P bukan satu-satunya yang memprediksi prospek suram pertumbuhan ekonomi Korea, menyusul pada bulan Mei lalu Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) telah memangkas prospek pertumbuhan di tahun 2019 untuk pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dari 2.6% menjadi 2.4%, sembari mengutip bahwa penurunan investasi tetap setelah restrukturisasi di sektor manufaktur serta melambatnya penciptaan lapangan kerja.

Selain itu Moody’s Investors Service juga telah memangkas estimasi pertumbuhan untuk Korea Selatan di tahun ini dari 2.3% menjadi 2.1% dan Fitch Ratings yang memangkas ekonomi negeri ginseng tersebut dari 2.5% menjadi 2.0%, sedangkan institusi swasta menempatkan perkiraan pertumbuhan dibawah 2.0% di tahun ini.(WD)

Related posts