Tingkat Pinjaman AS Yang Meningkat Berpotensi Menguntungkan Perbankan

Tingkat pinjaman konsumen AS diperkirakan akan memberikan dorongan keuntungan bagi bank-bank berskala besar, saat mereka merilis hasil kuartal keempat di pekan ini, meskipun tekanan dalam pinjaman korporasi dan pasar modal yang tidak merata masih membayangi hasil pendapatan di kuartal terakhir tahun lalu.

Besaran saldo dari para peminjam perorangan terus mencetak rekor baru karena pasar tenaga kerja AS tetap dalam kondisi yang kuat, sehingga mampu mendorong konsumen untuk berbelanja dan saat suku bunga mengalami penurunan maka hal ini akan mendorong mereka untuk meminjam, terutama melalui penggunaan kartu kredit.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Federal Reserve, saldo pinjaman konsumen AS di 25 bank terbesar, tercatat mencapai $1.19 triliun di pekan terakhir bulan Desember, atau naik 13% dari periode yang sama setahun sebelumnya. Adapun kenaikan terbesar datang dari penggunaan kartu kredit, yang mengalami peningkatan hingga 16%.

Dengan demikian hal ini berpotensi mendatangkan keuntungan triwulanan di JPMorgan Chase & Co dan Citigroup Inc, yang telah berupaya keras untuk mengembangkan bisnis kartu kredit mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Kebijakan The Fed yang menurunkan suku bunganya di tahun lalu, telah mendorong aktifitas hipotek, yang akan membantu para pemberik pinjaman utama seperti Wells Fargo & Co.

Para peminjam individu yang meminjam untuk membeli mobil dan mambayar biaya liburannya, telah menjadi andalan untuk mendatangkan keuntungan bagi industri keuangan tersebut akhir-akhir ini.

Sektor konsumen yang kuat telah mampu mengimbangi kelemahan yang terjadi di sektor perdagangan, penjaminan atau permintaan pinjaman bisnis di berbagai titik, yang dinilai oleh sejumlah eksekutif perbankan sebagai tanda bahawa ekonomi AS tidak sedangan berada di ambang resesi.

Para analis memperkirakan bahwa sektor pinjaman bisnis yang solid akan berlanjut di kuartal keempat. Analis dari RBC Capital Markets, Gerard Cassidy dalam sebuah wawancara, mengatakan bahwa bisnis pinjaman konsumen akan sangat menguntungkan bagi sektor perbankan.

Selain itu para analis juga mengatakan bahwa ada dorongan bagi bank-bank untuk memberikan pinjaman yang lebih bertanggung jawab kepada konsumen, yang sebagian dikarenakan adanya peraturan baru. Mereka juga memperingatkan bahwa kesalahan kredit sering terjadi pada saat-saat terbaik dan sulit untuk melihat hal tersebut di tengah kondisi ekonomi yang tumbuh dalam 11 tahun beruntun.

Nilai sektor real estate yang lebih tinggi telah memungkinkan para pemilik properti untuk mendapatkan uang tunai dengan menjual atau membiayai kembali. Di tengah persaingan yang memanas di bisnis kartu, menyebabkan sejumlah peminjam telah mentransfer saldo tanpa bunga dari bank yang satu ke bank yang lain dengan biaya yang relatif kecil, tanpa melunasi hutang mereka.

Meskipun tingkat pengangguran berada di level terendahnya dalam 50 tahun terakhir dan tingkat upah yang lebih tinggi, masih banyak konsumen yang mengandalkan gaji untuk kebutuhan hidup mereka.

Sebuah survei Fed tahun lalu menemukan 39% orang Amerika akan mengalami kesulitan menangani pengeluaran $400 yang tidak terduga. Orang dengan kartu kredit umumnya tidak berisiko seperti itu, tetapi masih sekitar 16% mengatakan mereka akan mengenakan biaya pada kartu.(WD)

Related posts