Header Ads

Trump Menunda Kenaikan Tarif Impor Dari Cina

Pada hari Minggu kemarin, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menunda kenaikan tarif AS untuk barang-barang produk Cina, yang sebelumnya dijadwalkan di akhir pekan ini, menyusul kemajuan yang dicapai dalam pembicaraan perdagangan.

Selain itu beliau juga menambahkan bahwa jika pembicaraan tersebut mendapat kemajuan yang signifikan, maka dirinya akan menandatangani kesepakatan perdagangan bersama Presiden Cina Xi Jinping. Sebelumnya diberitakan bahwa Trump telah merencanakan untuk meningkatkan tarif bea masuk impor dari 10% menjadi 25% senilai $200 milliar terhadap produk-produk Cina yang masuk ke pasar AS, jika tidak tercapai kesepakatan pada pembicaraan antara kedua negara di hari Jumat kemarin.

Dalam cuitannya di media sosial Twitter, Trump mengatakan bahwa kemajuan telah berhasil dicapai di sejumlah bidang, termasuk perlindungan terhadap kekayaan intelektual, transfer teknologi, pertanian, jasa dan mata uang. Penundaan tarif dari Trump merupakan suatu tanda yang paling jelas dan menjadi terobosan kedua negara sejak terjadinya “gencatan senjata” selama 90 dalam perang perdagangan di tahun lalu.

Hal ini tentunya akan disambut gembira oleh pasar sebagai tanda berakhirnya pertikaian perdagangan antar dua negara ekonomi terbesar dunia, yang telah menimbulkan gangguan perdagangan barang hingga senilai ratusan milliar Dollar dan juga sekaligus memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global.

Dalam pembicaraan yang diperpanjang hingga akhir pekan lalu, para negosiator AS dan Cina membahas masalah yang pelik, mengenai bagaimana menegakkan kesepakatan perdagangan potensial diantara keduanya, setelah sebelumnya membuat kemajuan struktural lainnya.

Kedua pihak berupaya untuk mengatasi perbedaan yang ada pada perubahan perlakuan Cina terhadap perusahaan milik negara, subsidi, transfer teknologi secara paksa dan praktik cyber theft. Pihak Washington menginginkan mekanisme yang kuat guna memastikan bahwa komitmen reformasi Cina ditindaklanjuti hingga selesai.

Sementara pihak Beijing bersikeras terhadap apa yang disebutnya proses untuk mencapai rasa adil dan obyektif. Akan tetapi pembahasan yang paling utama adalah mengenai penegakan hukum terhadap masalah perdagangan antar keduanya.(WD)

Related posts