Tusk: Masih Ada Waktu Untuk Mencegah Konflik Dan Kekacauan

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan pada hari Senin di Beijing bahwa China dapat membuka ekonominya ke zona Eropa jika China ingin karena Beijing berada di bawah tekanan yang meningkat atas kebijakan industrinya di tengah perang perdagangan dengan Washington.

Perdana Menteri China Li Keqiang menekankan perlunya menjunjung perdagangan bebas dan multilateralisme ketika Amerika Serikat dan China menjadi semakin terperosok dalam sengketa perdagangan, tanpa tanda-tanda kejelasan negosiasi.

Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa pada akhirnya dapat mengenakan tarif tambahan pada barang-barang China senilai lebih dari $ 500 milyar, hampir sejumlah total impor AS dari China tahun lalu untuk memerangi apa yang dikatakan AS adalah pelanggaran perdagangan dengan Beijing. Namun China telah menyatakan akan membalas tindakan AS tersebut.

Tuduhan panjang taktik proteksionis yang menjadikannya tempat yang sulit bagi perusahaan asing untuk beroperasi, China sedang mencoba untuk membalikkan kondisi itu dengan menyetujui investasi besar, seperti proyek petrokimia senilai $ 10 miliar oleh BASF Jerman (DE:BASFn).

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker berbicara pada briefing berita bersama dengan Perdana Menteri China Li Keqiang dan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk di Balai Besar Rakyat Beijing, mengatakan “Langkah itu menunjukkan jika China ingin membuka, dapat dilakukannya. China tahu bagaimana membuka diri”.

Tusk meminta China, Amerika Serikat dan negara-negara lain, untuk tidak memulai perang dagang dan segera mereformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) agar diperlengkapi untuk memerangi transfer teknologi paksa dan subsidi pemerintah, yang menjadi dasar keluhan dari tarif Trump.

“Kami membutuhkan aturan baru di bidang subsidi industri, kekayaan intelektual dan transfer teknologi, pengurangan biaya perdagangan, serta pendekatan baru untuk pengembangan dan penyelesaian sengketa yang lebih efektif,” kata Tusk lebih lanjut. “Masih ada waktu untuk mencegah konflik dan kekacauan.”

Pertemuan China-Uni Eropa diharapkan menghasilkan komunike sederhana yang menegaskan komitmen kedua belah pihak terhadap sistem perdagangan multilateral. Kedua pihak gagal menemukan konsensus yang cukup untuk pernyataan bersama setelah pertemuan pada tahun 2016 dan 2017 lalu.

Li mengatakan bahwa kedua pihak sepakat untuk menawarkan pertukaran pasar untuk pertama kalinya, yang dapat menghidupkan kembali pembicaraan perjanjian investasi yang berkelanjutan.

Utusan Eropa mengatakan mereka telah merasakan urgensi yang lebih besar dari China sejak tahun lalu untuk menemukan negara-negara yang berpikiran sama yang bersedia melawan kebijakan “Amerika Pertama” Trump.

Meskipun demikian, para pejabat Eropa menunjukkan bahwa Trump, yang juga menargetkan Eropa dengan tarif, telah menciptakan peluang untuk menunjukkan bahwa hubungan Uni Eropa-China dapat menjadi benteng bagi perdagangan global.

Pada malam pertemuannya dengan Rusia Vladimir Putin, pada hari Minggu Trump mengguncang sekutu sekali lagi dengan melabeli Uni Eropa sebagai musuh dalam hal perdagangan. Namun Tusk di twitter menyebutnya bahwa berita itu hoax, mengatakan bahwa Amerika dan Uni Eropa adalah teman baik.

Related posts