Uni Eropa Mengungkapkan Rencana Untuk Proyek Infrastruktur Di Asia

Komisi Eropa mengusulkan pada hari Rabu mengenai rencana kebijakan luar negeri untuk meningkatkan hubungan transportasi, energi dan infrastruktur digital dengan Asia. Tetapi membantah untuk menandingi proyek China “Belt and Road Initiative”.

Tujuan rencananya untuk dana tambahan dari anggaran umum Uni Eropa dari 2021, pinjaman sektor swasta dan bank pembangunan.

Strategi 13-halaman yang digariskan oleh eksekutif UE tidak menyebutkan berapa banyak blok yang akan dibelanjakan tetapi Komisi mengandalkan dana yang diusulkan sebesar 60 miliar euro ($ 70 miliar) yang akan bertindak sebagai asuransi bagi investor jika proyek gagal.

Dana itu dapat meningkatkan lebih dari 300 miliar euro antara 2021 dan 2027 agar investor tertarik mendanai ke dalam proyek tersebut dan menawarkan jaminan untuk menutupi biaya apabila proyek tersebut gagal.

Para menteri luar negeri Uni Eropa diharapkan segera untuk menyetujuinya pada pertemuan pada 15 Oktober, tiga hari sebelum pertemuan puncak antara para pemimpin Eropa dan Asia di Brussels.

Sejak 2013, China telah meluncurkan proyek-proyek konstruksi di lebih 60 negara, yang dikenal sebagai “Belt and Road Initiative”, mencari jaringan hubungan darat dan laut dengan Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Eropa dan Afrika.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan bahwa usulan Komisi itu tidak terkait dengan kebijakan-kebijakan infrastruktur China.

Bank Pembangunan Asia memperkirakan Asia membutuhkan lebih dari 1.3 triliun euro per tahun dalam investasi infrastruktur, tidak semuanya dapat dipenuhi oleh China, kata Komisi.

“Proposal kami, kebijakan kami dan kalender kami tidak ditentukan di tempat lain,” Mogherini mengatakan pada konferensi pers ketika ditanya apakah rencana itu merupakan proyek tandingan Beijing. “Ini bukan reaksi … untuk inisiatif lain … baik itu di Beijing, Washington, Moskow atau Timbuktu.”

Namun, para pejabat Uni Eropa mengatakan mereka prihatin dengan apa yang mereka lihat dalam model investasi China yang meminjamkan kepada negara-negara untuk proyek-proyek yang mungkin tidak mereka perlukan, atau mampu membelinya, membuat mereka sangat bergantung pada bantuan China tersebut.

Sebagai contoh, sebuah jalan raya yang didanai China untuk menghubungkan pantai Adriatik di Montenegro dengan tetangganya yang terkurung daratan Serbia telah begitu berhutang budi kepada Montenegro sehingga International Monetary Fund mengatakan bahwa negara itu tidak akan sanggup menyelesaikan proyek itu.

Jan Weidenfeld, seorang ahli hubungan Eropa-China di Mercator Institute for Chinese Studies (MERICS) di Berlin, mengatakan rencana UE “sangat tanggap terhadap Belt and Road.”

“Pesan utamanya adalah ketika Anda membuat proyek infrastruktur berskala besar, Anda harus mematuhi norma atau standar tertentu, apakah itu lingkungan atau keuangan. Uni Eropa melihat jendela peluang untuk mengarahkan kebijakan China di sini,” kata Weidenfeld. (hdr)

Related posts