US Dollar Bergerak Sedikit Lebih Tinggi

Pergerakan mata uang US Dollar berada di kisaran yang sedikit lebih tinggi meskipun dalam kisaran yang sempit terhadap mayoritas mata uang utama pesaingnya, seiring kekhawatiran baru terkait ketegangan diplomatik antara AS dan Cina serta meningkatnya kasus virus corona telah memberikan tekanan terhadap risk appetite.

Saat sesi pembukaan perdagangan waktu Eropa siang ini, mata uang tunggal Euro berhasil mempertahankan keuntungannya terhadap Greenback dan Poundsterling, di tengah investor yang menunggu data mengenai sentimen investor Jerman untuk membantuk mengukur laju pemulihan di kawasan Eropa dari krisis kesehatan.

Perdagangan mata uang telah menipis karena kebangkitan infeksi virus corona baru yang menyebabkan sejumlah wilayah kembali menempatkan pembatasan baru terhadap aktifitas bisnis.

Saat ini para pelaku pasar tengah menghadapi ancaman tambahan dari aksi balas dendam antara pihak Washington dan Beijing terhadap akses ke pasar keuangan AS, kebebasan sipil di wilayah Hong Kong serta permasalahan klaim teritorial di Laut Cina Selatan.

Ahli strategi valuta asing senior di IG Securities, Junichi Ishikawa mengatakan bahwa fokus pasar saat ini telah bergeser kepada pertanyaan apakah lockdown putaran berikutnya terkait virus corona akan cukup besar untuk merusak pertumbuhan ekonomi, sementara permasalahan Hong Kong berpotensi menyebabkan timbulnya gesekan perdagangan baru, dan perkembangan negatif di kedua sisi dapat menyebabkan pasar saham melakukan penyesuaian di kisaran yang lebih rendah dan mendorong aliran masuk ke Dollar dan Yen sebagai mata uang safe haven.

Saat ini AS dan Cina tengah berada dalam pertempuran diplomatik di sejumlah bidang yang berpotensi mengganggu pasar keuangan, menyusul Administrasi Presiden Donald Trump yang berencana untuk segera membatalkan perjanjian antara mereka dengan otoritas audit Cina yang telah berlangsung sejak 2013 silam.

Hal ini telah menjadi pertanda semakin meluasnya tindakan keras terhadap perusahaan Cina yang terdaftar di pasar saham AS yang dikecam karena menghindari aturan disclosure AS.

Selain itu, Amerika Serikat telah memperkuat sikapnya terhadap klaim China di Laut Cina Selatan dan sedang mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri status hukum khusus Hong Kong sebagai protes terhadap hukum keamanan Beijing untuk bekas jajahan Inggris itu.

Volume permintaan untuk aset berisiko cenderung mengalami pukulan setelah salah satu negara bagian AS terpadat, California yang menempatkan pembatasan baru terhadap aktifitas bisnis akibat lonjakan kasus virus corona.

Sedangkan mata uang Aussie sedikit berubah setelah sentimen pasar Australia terpukul setelah beberapa wilayah Australia telah memberlakukan kembali pembatasan ekonominya, sementara Dollar Selandia Baru telah menghapus kerugian awal, seiring mata uang antipodean dianggap sebagai barometer risiko karena kedekatannya dengan komoditas dan ekonomi Cina.(WD)

Related posts