Header Ads

Wakatabe : Bank of Japan Seharusnya Tidak Ragu Untuk Meningkatkan Stimulusnya

Deputi Gubernur Bank of Japan, Masazumi Wakatabe mengatakan bahwa bank sentral seharusnya tidak menunjukkan keraguannya untuk meningkatkan stimulus jika risiko terhadap ekonomi telah mengancam pencapaian target inflasi.

Sebagai salah seorang pejabat yang vokal terhadap pelonggaran kebijakan moneter yang agresif, Wakatabe juga mengatakan bahwa kerugia dari kebijakan ultra longgar milik BoJ belum mendapatkan manfaat yang lebih baik, sehingga dirinya menolak seruan terhadap Bank Sentral untuk mengurangi program stimulus besar-besaran mereka.

Mengenai peringatan bahwa terjadi peningkatan risiko terhadap ekonomi Jepang, Wakatabe mengatakan bahwa dirinya akan mengusulkan adanya perluasan kebijakan stimulus jika pencapaian target inflasi tidak stabil. Lebih lanjut beliau menambahkan untuk menentang pandangan pasar terhadap BoJ yang dianggap telah kehabisan amunisi untuk memperluas stimulus bahwa jika pelonggaran tambahan diperlukan, maka masih ada ruang untuk melakukan hal tersebut.

Pernyataan tersebut mengacu kepada keretakan yang terjadi di antara para anggota dewan kebijakan BoJ yang melihat masih adanya ruang untuk meningkatkan stimulus dengan anggota yang merasa waspada terhadap meningkatnya biaya pelonggaran kebijakan yang berkepanjangan. Untuk itu beliau menekankan bahwa bank sentral harus tetap waspada terhadap efek samping dari pelonggaran moneter, karena pembelian obligasi yang besar akan membuat likuiditas pasar akan mengering dan sekaligus juga menurunkan keuntungan bagi lembaga keuangan, seraya menekankan bahwa kemungkinan ketidakstabilan sektor perbankan Jepang berada di level rendah untuk saat ini, seiring banyaknya lembaga keuangan yang memiliki buffer modal yang cukup.

Beberapa lembaga pembuat kebijakan BoJ telah secara terbuka menyuarakan keprihatinannya terhadap peningkatan biaya pelonggaran moneter. Perekonomian Jepang telah mengalami penyusutan lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya pada periode kuartal ketiga lalu, menyusul bencana alam serta penurunan laju ekspor.

Laju inflasi yang mengalami tekanan telah memaksa Bank of Japan untuk mempertahankan program stimulusnya yang besar meskipun biaya mengalami peningkatan, seperti laba lembaga keuangan yang mengalami pukulan hingga mendekati level nol. Pada bulan Juli lalu Bank of Japan telah mengambil langkah untuk membuat kerangka kebijakannya untuk tetap berkelanjutan, seperti memungkinkan imbal hasil obligasi bergerak lebih fleksibel di kisaran targetnya.(WD)

Related posts