Yen Jepang Stabil Di Tengah Upaya Rebound Greenback

Mata uang safe haven Yen Jepang bertahan di tengah mata uang risiko yang berupaya untuk rebound seiring langkah koordinasi bank sentral dunia yang gagal untuk menghilangkan keraguan investor terhadap usaha menghentikan penyebaran pandemi virus corona.

Dalam beberapa hari terkahir aset risiko global mengalami pengalihan , di tengah gejolak yang melanda pasar yang berpotensi dilanda resesi global.

Dengan demikian perdagangan di sebagian besar pasar, termasuk valuta asing, cenderung mendapat dorongan dari aksi meminimalisir kerugian atau mengambil posisi yang tidak mengikat guna mengurangi risiko atau menebus kerugian sebelumnya, dibandingkan mengambil posisi penawaran baru untuk saat ini.

Salah seorang analis di ANZ mengatakan bahwa likuiditas di pasar keuangan telah meredup, akibat dari tindakan bank sentral global yang belum cukup untuk menyelesaikan guncangan di pasar.

Kecemasan likuiditas telah memukul mata uang sensitif risiko dengan imbal hasil yang lebih tinggi, seperti mata uang Aussie.

Sementara itu sejumlah mata uang dengan imbal hasil negatif, seperti Yen Jepang, Euro dan Swiss Franc, sebagian besar tidak mengalami aksi jual di pasar.

Hingga berita ini dibuat, greenback diperdagangkan di kisaran 106.30, mencoba naik dari level terendahnya di 105.15 pada Senin kemarin, namun sejauh ini masih mencatat penurunan 1.6% di periode pekan ini.

Sementara mata uang tunggal Euro terpantau masih cukup stabil, setelah sebelumnya bergerak dalam fluktuasi yang cukup lebar pada sesi perdagangan awal pekan.

Sedangkan mata uang Aussie yang mempunyai korelasi yang kuat dengan komoditas, bergerak 0.06% di wilayah positifnya, dan cenderung dalam range yang sempit.

Mata uang Dollar Kanada yang berhubungan dengan harga minyak, justru mengalami pelemahan hingga ke level terendahnya dalam empat tahun, seiring anjloknya harga minyak akibat perang harga Arab Saudi.

Selain itu dilaporkan bahwa Poundsterling sepertinya masih berada di bawah tekanan, dibayangi kekhawatiran yang kembali muncul mengenai keluarnya Inggris dari Uni Eropa serta ditambah defisit neraca berjalan Inggris yang semakin besar.

Sejumlah analis menilai bahwa sejumlah langkah dari bank sentral dunia, sedikit terburu-buru dan kemungkinan hal ini dapat menjadi bumerang bagi pasar seiring investor yang khawatir telah terjadi kepanikan di para pembuat kebijakan bank sentral dunia.(WD)

Related posts