AB InBev Memperkirakan Penurunan Laba Kuartal Pertama

Produsen bir terbesar di dunia asal Belgia, Anheuser-Busch InBev atau yang biasa disebut AB InBev pada hari ini merilis perkiraan penurunan laba kuartal pertama sebesar 10%, lebih lemah dari perkiraan awal.

Perkiraan ini disebabkan karena produsen bir tersebut memperkirakan dampak wabah virus corona yang akan mengurangi laju pendapatannya.

Pembuat produk bir Budweiser, Corona dan Stella Artois ini mengatakan bahwa penyebaran virus corona yang semakin meluas telah menyebabkan penurunan permintaan yang signifikan di Cina baik di bar maupun di toko-toko, terutama selama libur Tahun Baru Imlek.

AB InBev adalah perusahaan minuman terbaru yang memperingatkan bahwa epidemi mengambil alih bisnis karena bar dan restoran tutup menyusul peringatan dari perusahaan minuman yang memproduksi bir, anggur, dan wiski asal Inggris, Diageo yang mengatakan bahwa virus yang menyebar cepat di China dan wilayah Asia Pasifik yang lebih luas dapat berdampak terhadap laju keuntungan mereka hingga senilai $260 juta di tahun 2020 ini.

Perusahaan yang berbasis di Belgia, yang menjual lebih banyak Budweiser di Cina daripada di pasar utama AS, mengatakan bahwa wabah ini berpotensi menghilangkan pendapatan mereka hingga sebesar $285 juta di pasar Cina dalam dua bulan pertama di tahun ini, atau sekitar 2.3% dari laju pendapatan mereka di kuartal pertama pada tahun lalu.

Dalam sebuah pernyataannya AB InBev mengatakan bahwa kinerja mereka selama tahun 2019 lalu sebetulnya masih dibawah harapan dan mereka merasa tidak puas dengan hasil yang didapat tersebut.

Selain faktor penyebaran wabah virus corona yang semakin meluas, pangsa pasar mereka di Brasil juga diperkirakan melemah, dan keduanya dapat menyebabkan penurunan hingga 10% dalam laba inti di kuartal pertama di tahun ini.

Mereka juga menambahkan bahwa pihaknya memperkirakan laju pertumbuhan laba inti di tahun 2020 ini berkisar antara 2% hingga 5%, dengan sebagian besar ekspansi terjadi di paruh kedua nanti.

Laba inti perusahaan tersebut di periode kuartal keempat lalu, mencatat penurunan sebesar 5.5% menjadi $5.34 milliar, yang mana angka ini lebih buruk dari ekspektasi penurunan pasar sebesar 1.9% sebelumnya.

Keuntungan dari kedua pasar utama, yaitu AS dan Brasil, mengalami penurunan setelah AB InBev mencatat kelebihan pasokan grosir dari sebelumnya di awal tahun ini.

Sementara tingkat biaya yang lebih tinggi untuk komoditas serta lemahnya penjualan di pasar Brasil dibandingkan sejumlah negara di kawasan Amerika Latin lainnya, dinilai akan menjadi salah satu faktor utama penurunan pendapatan mereka di kuartal ini.(WD)

Related posts