Aktivitas Sektor Industri Korea Selatan Dilaporkan Stagnan

Aktivitas industri Korea Selatan dilaporkan tetap melaju stagnan di bulan Juli, seiring memburuknya sentimen konsumen dan sektor bisnis yang ditandai oleh penurunan investasi modal terpanjang dalam 20 tahun terakhir. Kantor Statistik Korea melaporkan produksi pertambangan dan manufaktur yang disesuaikan secara musiman naik 0.4% pada bulan Juli, sedikit membaik meskipun harus merayap setelah sebelumnya turun 0.7% di bulan Juni.

Output sektor otomotif turun 4.9% di bulan lalu seiring para produsen otomotif lokal terus bergulat dengan permintaan yang lemah serta persaingan yang ketat di pasar. Sementara output peralatan transportasi mengalami lonkakan 7.1%, sedangkan bahan kimia mencatat kenaikan 2.2% seiring kenaikan tajam di penjualan kosmetik yang didukung oleh tingginya minat belanja wisatawan dari Cina.

Laju operasional pabrik mencatat kenaikan rata-rata 74.3%, naik 0.9 poin persentase dari bulan sebelumnya. Untuk sektor jasa tercatat output sektor tersebut tidak banyak mengalami perubahan dari bulan Juni. Penjualan ritel, yang menjadi barometer ukuran konsumsi pribadi, dilaporkan naik 0.5% selama bulan Juli, yang mana sektor ini berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan meskipun lemah, menyusul kenaikan 0.7% pada bulan sebelumnya.

Penjualan barang-barang yang tidak tahan lama seperti kosmetik dan pakaian masing-masing mencatat kenaikan 0.5%, sementara untuk barang-barang tahan lama mencatat kenaikan tipis 0.1% di bulan Juli. namun demikian laju investasi modal justru tergelincir turun 0.6% di bulan lalu, meskipun berkurang jauh dari penurunan 7.1% di bulan Juni sebelumnya, namun sektor ini tetap memperpanjang tren penurunannya dalam lima bulan terakhir brturut-turut.

Sebelumnya Bank of Korea merilis indeks survei bisnis (BSI), yang menjadi acuan untuk mengukur tingkat sentimen dan prospek sektor bisnis, berada di level 74 atau turun 1 poin dari bulan Juni. Para produsen menganggap bahwa permintaan domestik yang lambat dinilai sebagai penyebab utama turunnya output industri di negeri Ginseng tersebut. Hal ini semakin diperparah dengan peningkatan biaya tenaga kerja yang memberikan cerminan timbulnya beban akibat lonjakan upah minimum baru-baru ini.(WD)

Related posts