Header Ads

Asiana Airlines Melaporkan Penurunan Laba Kuartal 3

Maskapai penerbangan kedua terbesar di Korea Selatan, Asiana Airlines Inc melaporkan penurunan laba operasional kuartal ketiga sekitar 15%, seiring tingginya biaya bahan bakr serta penguatan mata uang Dollar. Laba operasional perusahaan secara konsolidasi dilaporkan sebesar 101 milliar Won ($90.2 juta) di periode yang berakhir pada September lalu, atau turun 14.8% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, namun angka ini masih sesuai dengan ekspektasi pasar.

Sementara itu laju penjualan dilaporkan naik 13.6% di tingkat tahunan menjadi 1.85 triliun Won, yang merupakan level tertinggi barunya dalam tujuh kuartal berturut-turut, selain itu laba bersih dilaporkan naik hampir tiga kali lipat menjadi 47.8 milliar Won. Meskipun membukukan penurunan laba operasionalnya, namun nilai saham Asiana Airlines naik 0.51% menjadi 3,940 won di sesi perdagangan hari ini. Margin perusahaan mendapatkan tekanan oleh tingginya harga bahan bakar serta penguatan Dollar terhadap Won.

Mayoritas maskapai penerbangan Korea Selatan menghadapi tingginya beban biaya disaat mata uang Won melemah terhadap greenback, yang banyak digunakan untuk membayar pinjaman serta biaya bahan bakar. Harga bahan bakar untuk jet juga meningkat sejalan dengan kenaikan harga minyak global saat kuartal ketiga lalu. Laju pendapatan dari penerbangan internasional mengalami lonjakan hingga 13% di tingkat tahunan, seiring dukungan dari permintaan yang kuat untuk penerbangan jarak jauh ke AS dan Eropa selama musim panas lalu.

Sementara profitabilitas dari kargo juga meningkat lebih dari dua kali lipat di tahun ini menjadi59 milliar Won, menyusul perluasan rute pengiriman kargo termasuk Hong Kong, Osaka dan Da nang di Vietnam. Untuk tingkat rasio hutang dari Asiana Airlines turun menjadi 623% di kuartal ketiga dari 720% di akhir Desember 2017 lalu, seiring adanya pendapatan dari penjualan gedung kantor pusat mereka di perusahaan induk Kumho Asiana Group yang berpusat di Seoul. Sedangkan untuk pinjaman di periode yang sama, dilaporkan turun menjadi 3.14 triliun Won dari sebelumnya sebesar 4.06 triliun Won.

Maskapai ini mengharapkan adanya kenaikan di kuartal mendatang, seiring banyaknya turis asal Cina yang muali kembali k Korea, pasca adanya larangan kunjungan selama dua tahun. Sebelumnya pada Maret 2017 lalu, pemerintah Cina telah memberlakukan arangan perjalanan pada kelompok wisata ke Korea sebagai pembalasan atas keputusan Seoul untuk memasang perisai rudal AS yang dikhawatirkan Beijing merupakan ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Namun pembatasan ini menunjukkan adanya tanda-tanda pelonggaran di bulan lalu.(WD)

Related posts