BAIC Group Berniat Membeli Saham Daimler Sebanyak 5%

Perusahaan milik negara yang menjadi induk dari sejumlah produsen otomotif dan mesin asal Cina, BAIC Group China dikabarkan tengah berusaha untuk membeli saham Daimler hingga 5%, sebagai langkah untuk mengamankan investasi mereka di perusahaan manufaktur Mercedes-Benz China Beijing Benz Automotive.

Untuk itu pada awal tahun ini, BAIC telah memberi tahu kepada pihak Daimler mengenai niat mereka untuk sekitar 4%-5% saham dari produsen mobil Mercedes-Benz Jerman, dan telah meminta kepada otoritas lokal di Beijing untuk memberikan dukungan bagi pembelian saham 4% hingga 5%, yang mana BAIC dinilai telah mulai mengakuisisi saham Daimler di pasar terbuka.

Menurut salah seorang sumber yang dapat dipercaya, harga saham Daimler saat ini tengah ditopang oleh para pembeli yang nampaknya sedang mulai membangun pondasi. Namun demikian saat dimintai tanggapannya mengenai hal ini, pihak BAIC tidak menanggapi panggilan telepon tentang hal tersebut, sementara pihak Daimler justru menolak untuk berkomentar.

Hingga saat ini masih belum didapat kejelasan mengenai apakah BAIC Group dapat meningkatkan hampir 3 milliar Euro yang merupakan biaya yang dikenakan terhadap 5% saham di Daimler, yang berdasarkan nilai pasar dari saham produsen otomotif tersebut, sebesar 57.6 milliar Euro. Sementara itu pengajuan peraturan Jerman tidak menunjukkan bahwa BAIC sebagai pemegang saham utama di Daimler. Sedangkan untuk aturan pengambilalihan di Jerman, memungkinkan pihak pembeli untuk mengakuisisi saham hingga sebanyak 3% sebelum pengungkapan peraturan diperlukan lebih lanjut.

Daimler telah mengesampingkan mengeluarkan saham baru untuk membantu pihak luar membangun saham, sehingga memaksa pembeli potensial untuk memperoleh saham di pasar. Minat BAIC terhadap saham Daimler telah mengemuka sejak 2015, dan mereka telah melipatgandakan upayanya setelah Li Shufu selaku Chef dari pesaing mereka sesama produsen mobil Cina, Zhejiang Geely Holding Group dikabarkan telah memiliki hingga 9.69% saham di Daimler yang berbasis di Stuttgart pada awal 2018 lalu.

Dengan menggunakan perusahaan-perusahaan shell Hong Kong, derivatif, pembiayaan bank, dan opsi saham terstruktur, Li Shufu menyimpan rencana tersebut hingga dirinya dirasa mampu, hingga dirinya mampu untuk menjadi pemegang saham tunggal terbesar di Daimler.

Pada bulan Maret lalu, Jerman telah sepakat untuk membangun generasi berikutnya dari produk smart city dari Geely, yang hingga saat ini bermarkas di Hangzhou. Untuk itu pihak Daimler juga telah meyakinkan pihak BAIC bahwa aliansi industri baru yang melibatkan Mercedes dengan mitra asal Cina, hanya dapat terjadi jika terciptanya konsensus dengan pihak BAIC.(WD)

Related posts