Bank Komersial Besar Jepang Menghadapi Tantangan Besar Di Tahun Depan

Bank-bank terbesar di Jepang telah mengeluarkan peringatan kepada para investornya mengenai masa depan yang kemungkinan akan berada dalam kondisi yang lebih sulit. Tiga bank besar di negara tersebut telah mengandalkan pinjaman serta apa yang disebut dengan kepemilikan saham silang, untuk menghasilkan pendapatan sebagai suku bunga dasar yang membatasi keuntungan dari pinjaman.

Hasil yang dirilis pada Rabu kemarin yang menunjukkan bahwa mereka kehilangan manfaat saat ekonomi mengalami pelemahan, meningkatnya perselisihan perdagangan serta pelonggaran kebijakan moneter luar biasa dari Bank of Japan yang nampaknya masih akan berlanjut.

Presiden Sumitomo Mitsui Financial Group Inc. Jun Ohta pada jumpa pers di Tokyo pada hari Rabu, mengatakan bahwa lingkungan bisnis saat ini dilanda ketidakpastian dan lebih keras dibandingkan tahun lalu. Sumitomo Mitsui, Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. dan Mizuho Financial Group Inc. membukukan proyeksi laba bersih yang tidak sesuai dengan perkiraan analis, seiring meningkatnya biata pinjaman yang berada dalam kondisi yang buruk serta berkurangnya keuntungan dari penjualan kepemilikan saham, sehingga meredam prospek pendapatan di akhir tahun fiskal 2020 mendatang.

Mizuho dan MUFG mengharapkan adanya peningkatan laba di tahun ini, menjadi masing-masing ¥470 miliar ($4.3 miliar) dan ¥900 miliar. Chief Executive Officer Mizuho Tatsufumi Sakai, mengatakan kepada para wartawan bahwa tanda-tanda perlambatan ekonomi telah muncul di Jepang dan luar negeri, sehingga bank berusaha untuk memangkas 30 cabang lebih lanjut dalam lima tahun kedepan.

Lebih lanjut Sakai mengatakan bahwa target laba dari Mizuho memberikan cerminan adanya kemungkinan penurunan dalam keuntungan dari penjualan saham serta kenaikan dalam biaya kredit yang sangat rendah di tahun lalu. Sejumlah bank di Jepang telah menempatkan taruhan mereka kepada klien korporat dalam menanggapi upaya dari Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mendesak perusahaan untuk meningkatkan tata kelola manajemen.

Sementara itu Sumitomo Mitsui, yang menjadi satu-satunya dari tiga bank besar yang mencatat kenaikan nilai sahamnya di tahun ini, mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk membeli kembali saham mereka senilai ¥100 miliar. Kesemua bank tersebut telah menambah ketentuan pinjaman yang telah mereka tarik serta membukukan keuntungan dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi CEO MUFG Kanetsugu Mike mengatakan bahwa peningkatan biaya pinjaman bukan berarti bahwa mereka mengharapkan terjadinya gelombang wanprestasi.(WD)

Related posts