Bursa Asia Ditekan Kebijakan Tarif AS Kepada UE

Pergerakan bursa saham di kawasan Asia tergelincir hingga ke level terendahnya dalam satu bulan terakhir di sesi perdagangan hari ini, pasca Washington kembali membuka perseteruan dagang dengan Eropa dengan memberlakukan tarif bagi produk Eropa, sehingga hal ini menambah kekhawatiran pasar terhadap pertumbuhan global.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang, mencatat penurunan 0.78%, sementara indeks saham Nikkei Jepang turun 2.20%, di jalur penurunan harian terbesarnya dalam enam bulan, sedangkan bursa saham Australia anjlok hingga 2.13% hingga ke level terendahnya dalam lima pekan terakhir.

Penurunan ini mengikuti pergerakan indeks utama Wall Street yang semuanya melemah hingga lebih dari 1.5% pada sesi perdagangan Rabu waktu AS. Lemahnya data manufaktur AS telah menekan imbal hasil Treasury AS, serta ditambah dengan data pasar tenaga kerja dari ADP yang semakin melemahkan optimisme pasar terhadap potensi pertumbuhan global.

Pada hari Rabu waktu setempat, pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengumumkan bahwa pihaknya akan mengenakan tarif hingga senilai $7.5 milliar bagi barang-barang produk dari Uni Eropa. Disebutkan bahwa Washington akan memberlakukan tarif 10% terhadap produk pesawat Airbus dan 25% tarif bagi produk anggur dari Perancis, wiski Irlandia serta produk keju dari seluruh negara di benua Eropa, sebagai hukuman bagi kebijakan subsidi pesawat terbang ilegal Uni Eropa.

Selain itu sektor manufaktur Eropa juga akan dilanda kebijakan kenaikan tarif dari AS, terutama untuk produk baja dan aluminium, di tengah masih berlakunya ancaman tarif bagi produk otomotif dari Eropa.

Kebijakan ini telah disetujui oleh World Trade Organization, namun masih berpotensi menyebabkan gesekan di wilayah Atlantik. Peluang terjadinya respon balasan dari pihak Uni Eropa, dapat memicu meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi kerusakan yang berkepanjangan terhadap laju pertumbuhan global, di tengah masih berlangsungnya trade war AS-Cina.

Masayuki Kichikawa yang menjabat sebagai kepala ahli strategi makro di Sumitomo Mitsui Asset Management Co di Tokyo, mengatakan bahwa kebijakan tarif bisa menjadi sumber ketegangan antara AS dan Uni Eropa, yang mana beliau menilai bahwa laju ekonomi AS pada akhirnya terlihat melambat akibat gesekan perdagangan dan permasalahan di sektor manufaktur, sehingga pasar kembali memantau apakah semuanya ini akan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan lapangan kerja di AS.

Hingga saat ini pedagang melihat peluang sebesar 74.9% bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin. Persentase tersebut dapat kembali naik jika laporan Non-Farm Payroll di Jumat besok, menunjukkan melambatnya pasar tenaga kerja.(WD)

Related posts