Bursa Asia Ditekan Oleh Reaksi Cina Terhadap Sikap AS Terkait Hong Kong

Kekhawatiran pasar kembali muncul seiring intensitas gelombang protes di Hong Kong yang sepertinya belum akan berakhir, dinilai berpotensi menjadi penghalang bagi tercapainya kesepakatan perdagangan AS-Cina, sehingga memberikan tekanan bagi pasar saham di kawasan Asia.

Hal ini kembali mengemuka setelah pada hari Rabu kemarin, Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang hukum yang mendukung para demonstran pro-demokrasi di Hong Kong, sementara itu Kementerian Luar Negeri Cina segera mengeluarkan peringatan bakal adanya langkah-langkah balasan yang tegas sebagai tanggapan Beijing terhadap UU tersebut.

Undang-undang tersebut dinilai memberikan dukungan bagi para demonstran anti pemerintah Cina di Hong Kong, karena didalamnya tercantum ancaman sanksi terhadap pelanggaran hak asasi manusia serta upaya untuk melindungi otonomi Hong Kong. Namun pemerintah Cina mengecam langkah Washington tersebut, yang dinilai sebagai upaya campur tangan dalam urusan dalam negeri Cina.

Kabar ini sontak menghentikan laju kenaikan selama sepekan terakhir bagi indeks MSCI Asia Pasifik, yang mencatat penurunan hampir 0.1% hingga saat ini, sementara indeks saham Nikkei Jepang, Hangseng Hong Kong serta indeks blue-chip Shanghai terpantau bergerak di luar zona positifnya akibat melemahnya momentum pasar.

Terkait akan hal ini, Kay Van-Petersen selaku ahli strategi makro global di Saxo Capital Markets, Singapura mengatakan bahwa pihaknya berpikir bahwa kondisi ini dapat berubah menjadi jauh lebih buruk, seiring para investor yang tentunya akan menunggu lebih banyak petunjuk mengenai bagaimana respon pemerintah Cina, sehingga terbuka peluang adanya pergerakan turun di bursa saham Asia dalam sehari atau dua hari kedepan.

Sebelumnya indeks utama di bursa Wall Street mampu mencapai rekor tertinggi baru di sesi perdagangan semalam, seiring dukungan dari harapan terhadap kesepakatan perdagangan serta data ekonomi yang menunjukkan sedikit kenaikan di pertumbuhan ekonomi AS selama kuartal ketiga lalu, sekaligus mematahkan laporan sebelumnya yang mengalami perlambatan.

Data ekonomi AS lainnya menunjukkan adanya penurunan jumlah orang yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran, serta adanya sejumlah tanda yang mencerminkan bahwa penurunan investasi akan segera berakhir serta prospek cerah yang disuarakan oleh Federal Reserve.

Kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attril mengatakan bahwa kekhawatiran saat ini terhadap kemungkinan turunnya ekonomi AS hingga ke titik dimana The Fed harus menerapkan pelonggaran kebijakan moneter, sepertinya telah mereda.(WD)

Related posts