Header Ads

Bursa Asia Melonjak Seiring Harapan Stimulus AS

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mengalami lonjakan di sesi perdagangan hari ini, seiring harapan bahwa paket bantuan pandemi AS yang telah ditunggu sekian lama akan diperluas serta ditambah dengan kesepakatan perdagangan Brexit sehingga meningkatkan sentimen risk appetite.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencatat kenaikan 0.46%, bursa saham Australia naik 0.55%, sementara indeks Nikkei Jepang melonjak 1.63% hingga ke level tertingginya dalam 30 tahun, sedangkan bursa saham Cina bergerak 0.1% lebih tinggi.

Dengan meningkatnya sentimen risk appetite di pekan ini, indeks Dollar masih mengalami kerugian terhadap mata uang utama dan imbal hasil Treasury mencatat kenaikan setelah paket stimulus pada akhirnya disetujui oleh Presiden Donald Trump sehingga berhasil meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Sebelumnya Dewan Perwakilan Rakyat AS telah memilih untuk meningkatkan pembayaran stimulus kepada warga AS yang telah memenuhi syarat untuk menerima bantuan tunai senilai $ 2000 dari sebelumnya senilai $ 600, dan meneruskan hal ini ke Senat untuk dilakukan pemungutan suara.

Meskipun tidak jelas bagaimana langkah tersebut akan berjalan di Senat, namun penandatanganan tagihan pandemi sebesar $ 2.3 triliun oleh Presiden Donald Trump pada hari Minggu, yang juga termasuk pembayaran $ 600, telah mengirim saham di Wall Street ke rekor tertinggi dalam semalam karena meningkatkan optimisme tentang pemulihan ekonomi.

Kondisi positif ini juga memberikan dukungan bagi harga minyak berjangka untuk menguat selama perdagangan Asia dengan harapan terjadinya peningkatan akselerasi kegiatan ekonomi.

Pulihnya harga minyak berjangka terjadi setelah mengalami penurunan semalam, di tengah kekhawatiran mengenai pembatasan perjalanan yang akan melemahkan permintaan bahan bakar serta ditambah prospek peningkatan pasokan yang akan memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Kepala strategi pasar global di Axi, Stephen Innes mengatakan bahwa kesepakatan stimulus AS, serta kesepakatan perdagangan Brexit, untuk saat ini telah berhasil menciptakan perasaan lega terhadap semua pihak bahwa skenario terburuk telah berhasil dihindari.

Dengan permintaan yang lebih kuat untuk aset berisiko, telah membuat US Dollar, yang sering dianggap sebagai salah satu aset safe haven, melemah hingga 0.02% terhadap mata uang utama dunia.(WD)

Related posts