Bursa Asia Mencatat Kenaikan

Mayoritas pasar saham di kawasan Asia mencatat kenaikan di sesi perdagangan awal pekan ini, seiring peluncuran vaksin virus corona yang sukses secara global, sehingga meningkatkan harapan pemulihan ekonomi yang lebih cepat di tengah potensi bantuan fiskal baru bagi ekonomi AS.

Sinyal perdagangan bagi pasar ekuitas Eropa dan AS juga cukup positif, menyusul naiknya Eurostoxx 50 hingga 0.5% sejak pembukaan perdagangannya, serta indeks DAX Jerman yang mencatat kenaikan 0.7% dan indeks FTSE Inggris yang hingga saat ini menguat 0.8%, di tengah kenaikan harga minyak yang didorong meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Meskipun pasar AS ditutup malam ini terkait libur memperingati President Day, namun indeks E-mini futures S&P 500 justru mencatat kenaikan 0.5%, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencatat lonjakan hingga 0.6%.

Indeks Nikei Jepang berhasil meraih keuntungan 1.9% di kisaran 30,000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade terakhir, meskipun data Jepang menunjukkan laju pemulihan di negara tersebut mengalami perlambatan di kuartal keempat, namun angka yang dirilis lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Pada pekan ini para pelaku pasar akan menyoroti risalah pertemuan Federal Reserve di bulan Januari lalu, dimana para pembuat kebijakan memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga mereka.

Selain itu sejumlah data inflasi dari Inggris, Kanada dan Jepang akan dirilis serta di akhir pekan ini negara-negara ekonomi utama termasuk AS akan merilis data PMI awal Februari.

Sejumlah ekonom memperkirakan laju inflasi akan tetap tumbuh moderat dalam beberapa saat, yang mana sebuah aksi yang disebut “reflation trade” telah mengumpulkan kekuatan bagi pasar saham dalam beberapa hari terakhirnya, yang mana sebagian besar ditopang oleh vaksin virus corona serta harapan belanja fiskal dalam jumlah besar dari pemerintahan Presiden Joe Biden.

Dalam hal ini Biden telah mendorong pencapaian legislatif besar pertama dalam masa jabatannya, beralih kepada kelompok bipartisan untuk meminta bantuan kepada pejabat lokal dalam rencana bantuan Covid-19 senilai $ 1.9 triliun.

Esty Dwek selaku kepala strategi pasar global di Natixis Investment Managers Solutions, mengatakan bahwa pihaknya menilai bahwa dalam kondisi kenaikan inflasi secara bertahap, maka pasar ekuitas dapat terus berjalan dengan baik, namun pergerakan yang tidak teratur pastinya akan merugikan sentimen investor.

Lebih lanjut Dwek menyampaikan bahwa selisih kredit telah diperketat dengan tajam, namun mereka masih memiliki ruang untuk menyerap sejumlah imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga membuat pihaknya merasa lebih nyaman dengan risiko kredit dibandingkan risiko suku bunga.

Selain itu beliau juga menambahkan bahwa komoditas akan menjadi penerima manfaat dari siklus inflasi, namun laju harga komoditas masih dapat terus mengalami pemulihan tanpa laju inflasi inti yang tinggi, karena dibukanya kembali aktifitas ekonomi serta laju permintaan yang meningkat.(WD)

Related posts