Bursa Asia Menguat Didukung Perkembangan Vaksin Covid-19

Badan Pengawas Obat & Makanan AS (FDA) telah mengesahkan penggunaan plasma darah dari pasien yang pulih dari virus corona sebagai salah satu opsi pengobatan, dan hal ini telah mendukung sentimen dari investor terhadap harapan vaksin Covid-19, sehingga mayoritas bursa saham Asia menguat dalam dua sesi berturut-turut di sesi perdagangan awal pekan ini.

Pengumuman yang dikeluarkan oleh FDA mengenai apa yang disebut sebagai otorisasi penggunaan darurat, dikeluarkan pada malam berlangsungnya Konvensi Nasional Partai Republik, dimana Presiden Donald Trump akan dinominasikan untuk memimpin partainya selama empat tahun kedepan.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang melonjak 0.65%, bergerak menuju level tertinggi enam bulan yang disentuh pada perdagangan minggu lalu, indeks saham Nikkei Jepang telah membalikkan kerugian awal dan mempertahankan kenaikan sebesar 0.4%, bursa saham Cina juga menguat seiring indeks blue-chips CSI 300 menguat 0.8%, sedangkan indeks saham Kospi Korea Selatan yang berada di jalur penurunannya sejak mencapai level puncak di awal bulan ini, terpantau menguat hingga sebesar 0.9% di sesi perdagangan hari ini.

Dukungan sentimen pasar juga timbul dari laporan Financial Times bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mengesahkan standar peraturan di AS untuk mempercepat eksperimen vaksin virus corona dari Inggris untuk digunakan di AS menjelang pemilihan presiden AS di bulan November mendatang.

Terkait sentimen pasar saat ini, Kepala Strategi Pasar Global di AxiCorp, Stephen Innes mengatakan bahwa pasar dibukan pagi ini dengan optimisme di bidang terapi setelah FDA mengizinkan penggunaan plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19 untuk merawat pasien penderita saat ini, dan ini menjadi langkah positif lainnya untuk membantu waktu pemulihan pasien penderita Covid-19.

Namun begitu analis masih mendesak sikap hati-hati seiring indeks utama Wall Street sudah menyentuh rekor tertingginya, bahkan disaat ekonomi dunia berjuang untuk pulih dari pandemi sekali dalam periode 100 tahun terakhir.

John Normand selaku analis lintas aset di JPMorgan, mengatakan bahwa dengan peningkatan risiko dan bulan September menjadi bulan yang penuh dengan rilisan kebijakan, maka akhir musim panas ini merupakan waktu yang tepat untuk memeriksa silang penilaian dan untuk mempertimbangkan ancaman dan peluang.

Normand menunjuk pada pembicaraan tentang paket fiskal AS, tinjauan kebijakan Fed yang akan datang bulan depan dan peningkatan kampanye pemilu AS sebagai peristiwa berisiko selama beberapa minggu mendatang.

Sedangkan kepala strategi valas di National Australia Bank yang berbasis di Melbourne, Ray Attrill mengatakan bahwa risalah pertemuan The Fed di bulan Juli yang dirilis pada pekan lalu, hampir tidak menyebutkan prospek kebijakannya yang nampaknya gagal memberikan bantuan kepada ekspektasi pasar terhadap pertemuan kebijakan di bulan September yang akan mengungkap komitmen formal untuk panduan maju berbasis hasil yang baru, yang mana hal ini menjadi lebih penting setelah pasar mengalami kekecewaan yang nyata pada pekan lalu.(WD)

Related posts