Header Ads

Bursa Asia Menguat Seiring Harapan Investor Terhadap Stimulus Cina

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia menguat pada sesi perdagangan hari ini, menyusul indeks utama Dow Jones yang mampu break up diatas level resisten di 24765, seiring para investor yang berharap adanya lebih banyak stimulus di Cina untuk meredam ketegangan perdagangan dengan AS serta mulai dibukanya kembali ekonomi dunia.

Dari sejumlah bursa saham di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang berhasil memimpin kenaikan dengan mencatat keuntungan sebesar 1.7% hingga ke level tertingginya sejak awal Maret lalu, disaat dampak pandemi terhadap ekonomi semakin jelas terlihat. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,6%, sementara indeks Kospi mencatat kenaikan 1.5%.

Saham blue chips Cina juga mencatat kenaikan 0.8% setelah People’s Bank of China mengatakan akan memperkuat kebijakan ekonomi mereka serta terus melakukan dukungan untuk menurunkan suku bunga pinjaman.

Sementara sebagian besar lainnya mencoba untuk menyikapi sekaligus mengimbangi ketegangan antara Washington dan Beijing terhadap sektor perdagangan, virus corona serta proposal Cina untuk undang-undang keamanan yang lebih ketat di Hong Kong.

Ahli Strategi Valas Senior di NAB, Rodrigo Catril mengatakan bahwa ketegangan antara AS dan Cina terus membara sebagai salah satu latar belakang bagi pergerakan pasar ekuitas, namun para investor nampaknya lebih tertarik terhadap prospek ekonomi yang mulai dibuka kembali secara bertahap di seluruh belahan dunia.

Sebuah laporan pada hari ini menyebutkan bahwa Jerman ingin mengakhiri kebijakan travel warning untuk perjalanan wisata ke 31 negara di Eropa yang akan diberlkukan mulai 15 Juni mendatang jika situasi memungkinkan.

Namun demikian para investor di pasar obligasi percaya bahwa ekonomi masih akan membutuhkan sejumlah besar dukungan bank sentral dalam waktu yang lebih lama pasca pembukaan kembali aktifitas ekonomi dunia, dan tetap menjaga biaya pinjaman tetap rendah meskipun pemerintah meningkatkan hutang mereka.

Penurunan dalam imbal hasil A.S. mungkin menjadi beban bagi Dollar tetapi dengan tingkat mendekati bahkan kurang dari nol di pasar obligasi di seluruh dunia.(WD)

Related posts