Bursa Asia Menguat Seiring Harapan Terhadap Stimulus Fiskal

Pada sesi perdagangan awal pekan ini mayoritas bursa saham Asia mencapai level puncaknya dalam empat bulan terakhir, menyusul harapan para investor terhadap likuiditas super murah serta stimulus fiskal dalam menopang laju pemulihan global, meskipun AS menunda dibukanya aktifitas ekonominya akibat lonjakan kasus Covid-19.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang, mencatat kenaikan 1% ke level tertingginya sejak Februari, sementara saham blue-chips Cina melonjak hingga 3% ke level tertingginya dalam lima tahun terakhir, bahkan lebih tinggi dari kenaikan 7% di pekan lalu, sedangkan indeks saham Nikkei juga berhasil mencatat kenaikan hingga 1.3% sejak sesi pembukaannya.

Dalam sebuah catatannya analis di Nomura menyampaikan bahwa pihaknya berpikir bahwa ada kasus untuk meningkatkan alokasi taktis di pasar ekuitas Asia dalam konteks portofolio ekuitas global dan mereka melihat sejumlah katalis yang dapat mendorong kinerja ekuitas Asia di luar Jepang, terhadap pasar ekuitas AS dalam waktu dekat, seiring data Covid-19 yang lebih baik serta data mobilitas di ekonomi yang mendominasi indeks Asia di luar Jepang yang harus diterjemahkan sebagai pemulihan ekonomi yang lebih cepat dibanding laju pemulihan di AS.

Sebagian besar pasar telah mengalami penguatan di perdagangan pekan lalu seiring sejumlah data ekonomi untuk bulan Juni dirilis dengan hasil yang lebih baik dari ekspektasi, meskipun kenaikan jumlah kasus infeksi virus corona di AS telah mengaburkan prospek di masa depan.

Menurut penghitungan dari Reuters, dalam empat hari pertama bulan Juli saja, 15 negara telah melaporkan peningkatan rekor dalam kasus baru COVID-19, yang telah menginfeksi hampir 3 juta orang Amerika dan menewaskan sekitar 130.000 orang.

Terkait akan hal ini, Kepala Strategi Pasar Keuangan di Westpac, Robert Rennie mengatakan bahwa sangat jelas AS tidak pernah berhasil mengendalikan wabah Covid seperti yang dilakukan oleh negara lain, dan dengan membuka kembali aktifitas ekonominya yang terlalu cepat, maka pihaknya dapat melihat adanya peningkatan jumlah kasus infeksi virus baru yang menakutkan.

Rennie juga menambahkan bahwa pasar harus meningkatkan kekhawatiran di bulan ini karena aktifitas ekonomi kemungkinan akan kembali melunak dari laju pemulihan dalam beberapa bulan terakhir, serta ditambah dengan hubungan antara AS dan Cina yang semakin memburuk secara nyata.

Diberitakan sebelumnya bahwa dua kapal induk AS melakukan latihan militer di laut Cina Selatan pada Sabtu kemarin, di saat yang bersamaan dengan latihan militer yang digelar oleh Cina yang telah mendapat kritikan tajam dari pihak Pentagon dan negara-negara tetangga.

Tingkat risiko saat ini yang dikombinasikan dengan stimulus yang tidak henti-hentinya dari bank sentral, telah memberikan dukungan bagi obligasi AS dalam menghadapi data ekonomi yang lebih baik, dengan imbal hasil di 0.67% untuk tenor 10 tahun dan jauh diatas pencapaian 0.959% pada bulan Juni lalu.

Analis di Citi memperkirakan bank sentral global kemungkinan akan membeli $6 triliun aset keuangan selama 12 bulan ke depan, yang mana jumlah tersebut dua kali lebih banyak dari sebelumnya.(WD)

Related posts