Bursa Asia Menguat Seiring Kembalinya Trump Ke Gedung Putih

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatat kenaikan hingga ke level tertingginya dalam dua pekan di sesi perdagangan hari ini setelah Presiden AS Donalad Trump keluar dari rumah sakit setelah mendapat perawatan untuk Covid-19dan kembali ke Gedung Putih serta prospek stimulus AS yang cerah.

Pasar Obligasi dan pergerakan indeks Dollar terpantau menahan kerugiannya di tengah meningkatnya minat terhadap aset berisiko, namun di luar itu harga komoditas minyak mentah justru mencatat kenaikan lebih lanjut.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang, tercatat naik 0.71% hingga ke level tertinggi dua pekan, dipimpin oleh bursa saham Hong Kong yang mencatat kenaikan hingga 0.88%, sementara indeks Nikkei Jepang juga naik 0.41%.

Bursa ASX 200 Australia bergerak lebih lemah dan hanya mencatat kenaikan 0.17% menjelang pertemuan bank sentral Australia.

Diberitakan bahwa Presiden Trump telah kembali ke Gedung Putih di hari Senin kemarin, setelah berada di rumah sakit selama tiga malam dan mengatakan bahwa dirinya merasa sangat baik, meskipun salah satu dari tim dokternya memperingatkan bahwa dirinya belum sepenuhnya terhindar dari virus corona.

Sementara itu secara terpisah, Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin berbicara melalui sambungan telepon selama sekitar satu jam dan sepakat untuk melanjutkan pembicaraan di hari ini guna melanjutkan tugas mereka menuju kesepakatan mengenai kesepakatan mengenai pengeluaran bantuan virus corona.

Kepala Strategi Pasar Asia di J.P.Morgan Asset Management, Tai Hui mengatakan bahwa selain kesehatan Trump, fokus para pelaku pasar akan tertuju kepada Kongres AS yang akan mengesahkan RUU stimulus tambahan dan jika melihat sejumlah bentuk stimulus yang akan dikeluarkan, maka dirinya berpikir bahwa pasar akan menganggap hal ini adalah sesuatu yang positif karena banyak dukungan penting dari putaran sebelumnya yang telah berakhir.

Ray Attrill yang menjabat sebagai kepala strategi FX di National Australia Bank di Sidney, mengatakan bahwa prospek stimulus jangka pendek yang membaik dan berpotensi besar mengalami defisit di bawah kepemimpinan Presiden Biden yang memiliki keuntungan bersih, menjadi latar belakang kenaikan hasil saat ini.(WD)

Related posts