Bursa Asia Menjauhi Level Tertingginya

Kekhawatiran terhadap potensi terjadinya hambatan bagi stimulus pemerintahan Biden senilai $ 1.9 triliun yang menimbulkan beban bagi sentimen risk-on di pasar dan mendorong imbal hasil Treasury AS ke posisi terendahnya dalam tiga pekan, telah memberikan tekanan bagi bursa saham di kawasan Asia hingga menjauhi rekor tertingginya.

Selera risiko yang lebih rendah telah memberikan sejumlah dukungan bagi pergerakan nilai tukar US Dollar terhadap mata uang utama pesaingnya, sekaligus meningkatkan sentimen bagi safe haven Dollar, yang juga memberikan tekanan bagi harga minyak mentah di sesi perdagangan Asia pagi ini.

Gelombang pelemahan di seluruh pasar saham Asia, dapat terlihat dari jatuhnya bursa saham Korea Selatan dan Hong Kong yang masing-masing mencatat penurunan 1.7%, sementara bursa saham Jepang jatuh 0.6% dan saham Cina mencatat penurunan hingga 1.5%, setelah kesemuanya mencapai level tertingginya di bulan ini.

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang terpantau merosot 0.7% menjadi 722.7, tetapi pelemahan ini tidak jauh dari rekor tertinggi yang dicapai pada hari Senin kemarin dan tercatat masih naik 9% sepanjang tahun ini, sedangkan pasar Australia ditutup terkait libur Australia Day.

Saat ini fokus perhatian para investor tertuju ke Washington disaat para anggota parlemen AS setuju bahwa pemberian vaksin Covid-19 ke warga AS harus menjadi prioritas utama, bahkan disaat terjadi hambatan peluncuran paket bantuan pandemi.

Pada sesi perdagangan waktu AS semalam, indeks utama Nasdaq berhasil mencapai level puncak barunya dan mencatat kenaikan 0.7% di tengah harapan musim laporan pendapatan yang kuat di akhir pekan ini dari sejumlah perusahaan raksasa teknologi AS, namun kenaikan ini tidak mampu diikuti oleh indeks utama Dow Jones Industrial Average yang justru mencatat penurunan 0.12%.

Pembuat kebijakan AS diharapkan untuk menjaga keran moneter tetap terbuka ketika FOMC Federal Reserve melakukan pertemuan di hari Selasa dan Rabu, dan terkait akan hal ini Ebrahim Rahbari selaku ahli strategi FX di CitiFX mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan FOMC akan mengulangi sekaligus memperkuat nada dovish The Fed yang dinilai masih cukup signifikan mengingat diskusi adanya kebijakan tapering baru-baru ini serta pertimbangan bank sentral lainnya untuk melakukan penyesuaian kebijakan.

Lebih jauh Rahbari mengatakan dalam sebuah laporannya bahwa kebijakan Federal Reserve yang bernada dovish merupakan pendorong utama bagi pandangan mereka mengenai sisi terhadap aset berisiko serta pandangan terhadap Greenback yang memasuki kondisi bearish, sehingga pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap pembicaraan kebijakan The Fed serta adanya potensi perubahan kebijakan.(WD)

Related posts