Header Ads

Bursa Asia Merosot Seiring Tekanan Sektor Teknologi Dan Harga Minyak

Penurunan saham-saham sektor teknologi di bursa Wall Street dalam tiga hari beruntun, penundaan uji vaksin virus corona dari produsen utama obat serta harga minyak yang mencapai posisi terendah, telah menjadi faktor yang menimbulkan tekanan bagi jatuhnya bursa saham Asia.

Penurunan ini dialami oleh indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang yang turun 1.06%, bursa saham Australia turun 2.47%, sementara indeks saham Cina CSI300 melemah 1.53%, indeks Nikkei Jepang jatuh 1.12%, sedangkan saham berjangka S&P 500 E-mini AS justru mencatat kenaikan 0.25% dan Nasdaq berjangka juga naik 0.83%.

Tekanan terhadap ekuitas dan aset berisiko lainnya juga timbul setelah AstraZeneca Plc menghentikan uji coba tahap akhir terhadap salah satu kandidat vaksin Covid-19, seiring penyakit yang diderita oleh sukarelawan penelitiannya.

Selain itu imbal hasil obligasi memperpanjang penurunan karena investor mencari keamanan dari memegang hutang pemerintah, sehingga aksi hindar risiko ini turut mendorong Yen ke level tertingginya dalam sepekan terhadap Dollar.

Sebelumnya aksi jual saham sektor teknologi AS yang sempat mencapai level tingginya, sebagian disebabkan oleh dorongan kekhawatiran mengenai kelebihan pembeliaan call option, yang telah meningkatkan risiko koreksi yang lebih besar di pasar lain.

Tom Piotrowski selaku seorang analis pasar di pialang Australia CommSec, mengatakan bahwa kinerja bursa Wall Street akan meninggalkan residu yang berat dan yang paling penting adalah bagaimana saham-saham teknologi ternama mengalami penurunan yang cukup agresif dan investor sepertinya akan mencermati hal tersebut dan penurunan harga minyak yang dramatis dinilai sebagai proksi dari ekspektasi pertumbuhan global.

Diantara saham-saham teknologi AS, salah satunya adalah produsen kendaraan listrik Tesla yang mencatat kejatuhan hingga sebesar 21.06% di sesi perdagangan semalam, hingga mencatat persentase penurunan harian terbesarnya.

Sementara itu saham SoftBank Group Corp mencatat penurunan hingga 3.64% di sesi perdagangan hari ini akibat kekhawatiran mengenai perdagangan call option dari konglomerat Jepang tersebut terhadap saham teknologi AS.

Sejak pekan lalu saham Softbank telah mencatat kejatuhan sebesar 12%, setelah sebuah sumber mengatakan bahwa mereka tengah membangun saham di perusahaan teknologi besar AS hingga senilai $4 milliar dan membeli sejumlah call option yang sama untuk saham yang mendasarinya.

Pertemuan Federal Reserve AS berikutnya yang akan berakhir pada 16 September, yang mana keputusannya akan berdampak besar pada pasar saham karena banyak analis yang mengatakan bahwa kelebihan likuiditas yang diciptakan oleh The Fed telah berkontribusi pada kenaikan harga ekuitas di tahun ini.(WD)

Related posts