Bursa Asia Rebound Didukung Kebijakan Stimulus BoJ

Bursa saham di kawasan Asia mengalami rebound di sesi perdagangan pagi hari tadi setelah Bank of Japan mengumumkan langkah-langkah stimulus dalam jumlah yang lebih banyak, guna meredam damapk pandemi virus terhadap ekonomi Jepang.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 1.2% pada awal perdagangan, mengambil sebagian keuntungan setelah mengalami penurunan 2.6% di pekan lalu, sementara indeks Nikkei Jepang sempat menguat hingga 2.1% dan saat ini masih stabil dengan kenaikan 1.6%.

Diberitakan bahwa Bank of Japan telah menyesuaikan spekulasi yang terjadi di pasar dengan janji mereka untuk membeli obligasi pemerintah dalam jumlah yang tidak terbatas, sekaligus menghapus target pembelian sebesar 80 triliun Yen per tahun sebelumnya.

Langkah ini akan meningkatkan laju pembelian surat hutang perusahaan dan komersial serta melonggarkan aturan terhadap surat hutang yang dinilai memenuhi syarat.

Sementara itu terkait rencana pertemuan antara Federal Reserve dan European Central Bank, ANZ dalam sebuah catatannya menulis bahwa untuk The Fed nampaknya tidak ada perkembangan langkah lebih lanjut pada kebijakan QE mereka atau kebijakan suku bunga, namun ANZ mengharapkan untuk menggarisbawahi terhadap kebijakan The Fed yang akan diterapkan tanpa batas untuk memberikan dukungan bagi perekonomian AS.

Selain itu ANZ juga menulis bahwa pihaknya berharap bahwa ECB akan meningkatkan ukuran paket pembelian obligasi daruratnya yang saat ini berkisar 500 milliar Euro menjadi 1.25 triliun Euro dan terus mendesak adanya kebijakan stimulus fiskal yang cukup besar.

Pasar obligasi tetap didukung dengan baik oleh pelonggaran besar-besaran yang sedang berlangsung dari bank-bank sentral utama, yang telah melihat perdagangan imbal hasil 10 tahun AS sekitar 0,6% selama lebih dari sepekan terakhir.

Musim laporan pendapatan sepertinya berjalan dengan lancar, seiring sekitar 173 perusahaan yang terdaftar dalam indeks utama Wall Street, termasuk Apple, Amazon, Microsoft, Caterpillar, Ford, General Electric dan Chevron.

Terkait hal ini para analis memperkirakan adanya penurunan 15% di laju pendapatan kuartal pertama, dengan penurunan lebih dari 60% untuk pendapatan laba di sektor energi, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap kegagalan untuk membayar hutang serta potensi kebangkrutan.(WD)

Related posts