Bursa Asia Rebound Didukung Komoditas

Kenaikan harga komoditas telah mendorong ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan yang lebih baik, sehingga memberikan dukungan naik bagi mayoritas bursa saham di kawasan Asia dari posisi terendahnya dalam dua pekan terakhir, setelah sehari sebelumnya kenaikan imbal hasil Treasury AS dan prospek inflasi menghantam saham teknologi AS.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0.2%, setelah sebelumnya turun ke level terendahnya dalam dua pekan, dan meskipun telah bergerak turun dari level tertingginya di pekan lalu akan tetapi secara keseluruhan indeks MSCI masih mencatat kenaikan lebih dari 9% sepanjang tahun ini.

Sementara itu indeks S&P/ASX 200 Australia dan indeks Strait Times Singapura mencatat kenaikan sebesar 0.6%, bursa Hong Kong berhasil meraih keuntungan 1.1%, namun bursa Kospi Korea Selatan yang didominasi oleh saham teknologi justru mengalami penurunan 0.3% di sesi perdagangan hari ini.

Kepala strategi pasar di broker CMC Markets di Sydney, Michael McCarthy mengatakan bahwa lingkungan suku bunga yang lebih tinggi telah memaksa investor untuk mempertimbangkan biaya peluang investasi, sehingga saham yang memiliki pinjaman signifikan atau dinilai tidak menghasilkan pendapatan bagi investor kemungkinan sangat rentan terhadap kondisi saat ini.

Dukungan dari kenaikan harga komoditas terhadap bursa saham terjadi setelah harga minyak mengalami kenaikan akibat prospek pasokan global yang ketat setelah produksi AS terpukul oleh gelombang cuaca dingin serta ditambah dengan pertemuan produsen minyak mentah terkemuka diperkirakan akan menahan sebagian besar tingkat produksi.

Saat perdagangan di hari Senin kemarin, tingkat imbal hasil obligasi telah mengalami peningkatan tajam di bulan ini karena prospek stimulus fiskal AS yang lebih banyak telah mendorong harapan untuk laju pemulihan ekonomi global yang lebih cepat, namun demikian hal tersebut juga akan memicu kekhawatiran inflasi, sehingga mendorong investor untuk menjual saham pertumbuhan yang telah menguat dalam beberapa bulan terakhir.

Terkait hal tersebut Cesar Perez Ruiz selaku kepala investasi di Pictet Wealth Management dalam sebuah laporannya mengatakan bahwa suku bunga riil AS saat ini berada di wilayah positif, sehingga menimbulkan sejumlah kekhawatiran seputar konsekuensi di pasar ekuitas.

Para pelaku pasar akan mengalihkan fokus mereka kepada Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang akan menyampaikan testimoni setengah tahunannya di hari ini, yang mana kemungkinan Powell akan mengulangi komitmennya untuk menjaga kebijakan sangat mudah selama diperlukan untuk mendorong laju inflasi yang lebih tinggi.

Dalam sebuah catatannya ahli strategi valuta asing di Citi mengatakan bahwa selain pertanyaan mengenai apa yang diperlukan oleh The Fed untuk mempertimbangkan pengurangan dan minat investor yang paling mendesak adalah pada suatu titik dimana Fed dapat menanggapi tingkat atau volatilitas suku bunga setelah kenaikan baru-baru ini.(WD)

Related posts