Header Ads

Bursa Asia Terpengaruh Kekhawatiran Melambatnya Pelonggaran Kebijakan Cina

Pergerakan bursa saham di kawasan Asia sedikit mengalami perubahan di sesi perdagangan hari ini, seiring kekhawatiran mengenai Cina yang mungkin akan memperlambat laju pelonggaran kebijakan moneternya untuk mengekang antusiasme pasar.

Bursa saham Cina terpantau jatuh dari level tertingginya dalam 13 bulan terakhir, di sesi pembukaannya setelah ditutup terkait libur Paskah pada Senin kemarin. Penurunan ini mencatat pergerakan sesi terburuknya dalam hampir empat pekan terakhir, menyusul komentar dari badan pembuat kebijakan yang meningkatkan kekhawatiran investor bahwa pemerintah Beijing akan melonggarkan kebijakan stimulus mereka setelah adanya tanda-tanda stabilisasi di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Sementara indeks Nikkei Jepang sempat menguat di awal pembukaan perdagangan bursa saham Tokyo, namun saat ini indeks Nikkei terpantau turun akibat kekhawatiran pasar mengenai perlambatan pelonggaran kebijakan moneter Cina serta ditambah adanya sejumlah aksi profit taking dari para investornya menjelang libur panjang di pekan depan terkait akan dilaksanakannya penobatan putra mahkota Jepang.

Sebelumnya pergerakan bursa saham Wall Street dihiasi oleh penurunan sejumlah saham-saham di sektor properti menyusul data ekonomi Existing Home Sales yang dirilis di angka yang lebih rendah dari yang diharapkan sebelumnya akibat berkurangnya pasokan rumah, namun kenaikan saham-saham energi akibat kenaikan harga minyak, nampaknya mampu mengimbangi penurunan akibat data di sektor perumahan tersebut.

Hingga saat ini harga minyak masih berada di level tingginya, menyusul rencana kebijakan dari pemerintah Washington yang akan menghapuskan keringanan terhadap delapan negara importir minyak Iran. Selain itu kenaikan harga minyak hingga lebih dari 2% ini, nampaknya masih akan berlanjut hingga akhir bulan setelah pihak AS mengeluarkan ultimatum kepada negara importir minyak Iran, untuk menghentikan pembeliannya dengan ancaman sanksi terhadap Cina, India, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Turki, Italia, dan Yunani jika masih melakukan transaksi pembelian minyak dari Teheran.(WD)

Related posts