Bursa Eropa Diterpa Aksi Profit Taking

Pasar Eropa dikejutkan oleh penurunan di sesi perdagangan hari ini, seiring para investor dan pedagang yang melakukan aksi profit taking di rekor tertingginya baru-baru ini, sembari menunggu ditandatanganinya kesepakatan perdagangan AS-Cina yang telah lama ditunggu-tunggu dan musim earning report di Wall Street.

Saat sesi perdagangan waktu Asia, indeks saham global MSCI mencetak rekor barunya setelah mendapatkan dukungan menyusul adanya berita bahwa Washington telah mengeluarkan Cina dari daftar sebagai negara manipulator mata uang, namun memasuki pembukaan perdagangan waktu Eropa, terjadi penurunan di indeks tersebut.

Mayoritas pelaku pasar di Eropa, seperti London, Frankfurt dan Paris mengambil langkah awal untuk meninggalkan indeks STOXX 600 regional Eropa hingga bergerak sekitar 0.5% lebih rendah, di tengah munculnya kembali minat terhadap safe haven dan obligasi.

Salah seroang ahli strategi suku bunga di DZ Bank di Frankfurt, Andy Cossor mengatakan bahwa meskipun ada kabar baik yang mengatakan bahwa Cina telah keluar dari daftar manipulator mata uang, namun investor justru berpikir bahwa harga obligasi akan memperpanjang kerugiannya dan hal inilah yang menyebabkan mereka mengambil posisi short di pasar saat ini.

Perubahan suasana pasar Eropa juga dipengaruhi oleh pergerakan Wall Street dan aset berjangka AS lainnya yang bergerak lebih rendah setelah mencapai rekor tertinggi barunya pada hari Senin kemarin.

Langkah tersebut juga terjadi bersamaan waktunya dengan kedatangan delegasi Cina di Washington menjelang penandatangan perjanjian perdagangan fase pertama pada hari Rabu besok, yang dianggap sebagai langkah untuk menenangkan perselisihan yang telah menimbulkan gejolak ekonomi global.

Berbeda dengan bursa saham di kawasan Eropa, pergerakan bursa indeks saham Nikkei Jepang justru berhasil menguat 0.7% di sesi perdagangan elektronik semalam, guna mencapai level tertingginya dalam sebulan terakhir.

Demikian juga dengan bursa saham Australia yang mencatat kenaikan dengan besaran margin yang sama dan ditutup di rekor tertingginya.

Selain menunggu kesepakatan perdagangan AS-Cina, para investor tengah menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pada malam nanti, dengan ekspektasi konsensus tetap stabil di 0.2% pada bulan Desember lalu.(WD)

Related posts