Header Ads

Bursa Eropa Terfokus Kepada Masalah Anggaran Italia

Kekhawatiran yang melanda terhadap anggaran Italia sedikit mengimbangi harapan penurunan suku bunga Federal Reserve sebagai upayanya untuk menopang perlambatan ekonomi global, telah menyebabkan pergerakan bursa saham Eropa berada dalam range terbatas.

Indeks utama Eropa, STOXX 600 membuka perdagangan sekitar 0.1% lebih tinggi, pasca janji dari Kepala Federal Reserve, Jerome Powell untuk bertindak “sepantasnya” dalam memerangi peningkatan risiko perang perdagangan, yang memberikan dukungan bagi Wall Street dan bursa Asia pagi tadi.

Para investor sepertinya menilai bahwa hal tersebut merupakan pergeseran kebijakan dari pendekatan yang lebih sabar oleh The Fed dalam beberapa bulan terakhir, serta sekaligus sebagai sinyal potensial adanya pembaruan kebijakan dari European Central Bank, yang mana mereka tengah menjalankan kebijakan stimulus untuk mendongkrak laju inflasinya.

Namun saat ini fokus pasar tertuju pada Italia, menyusul laporan dari surat kabar lokal yang mengatakan bahwa pihak Brussels akan meluncurkan prosedur yang berkaitan dengan disipliner yang menyebutkan bahwa Italia menjalankan kebijakan fiskal yang kurang bijaksana dan berpotensi membuat negara tersebut kehilangan kepercayaan pasar.

Sementara itu indeks saham Pan-Europe membukukan kerugian bulanan terburuknya dalam lebih dari tiga tahun, di sepanjang periode perdagangan Mei kemarin, akibat ketegangan perdagangan antara AS-Cina yang menunjukkan sedikit kelonggaran, namun justru semakin meningkatkan kecemasan terhadap terjadinya resesi global.

Meskipun demikian laju sejumlah saham-saham Eropa justru bergerak beragam, seperti saham produsen aluminium, Norsk Hydro ASA yang melonjak hingga 5.5%, seiring laporan laba dan pendapatan kuartalnya yang melampaui ekspektasi pasar, walaupun perusahaan tersebut harus mengeluarkan biaya antara 300 juta Euro hingga 350 juta Euro akibat serangan cyber pada Maret lalu.

Sedangkan saham produsen baja khusus asal Austria, Voestalpine mencatat penurunan 2.4%, setelah mengusulkan pemangkasan dividen sebesar 21.4% untuk tahun bisnis 2018/19, pasca penurunan laba operasi hingga sepertiganya pada kuartal keempat lalu.(WD)

Related posts