Bursa Global Terpengaruh Oleh Pernyataan Trump Dan Kebijakan ECB

Pergerakan bursa saham di kawasan Asia mencatat kenaikan tipis di sesi pembukaan perdagangan hari ini, karena para investor tengah mencerna serangkaian perkembangan dari perselisihan perdagangan AS-Cina serta pelonggaran kebijakan moneter dari European Central Bank.

Pergerakan di pasar Asia terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa dirinya akan mempertimbangkan kesepakatan perdagangan sementara dengan Cina, meskipun langkah ini berisiko mendapatkan perlawanan dari sejumlah kalangan.

Pada hari Kamis kemarin, Trump mengatakan bahwa dirinya ingin menandatangani perjanjian penuh dengan pihak Beijing, namun tetap membiarkan terbukanya peluang untuk mencapai kesepakatan terbatas. Pernyataan Trump tersebut sedikit membingungkan pasar mengenai apa yang akan diterima oleh pihak Gedung Putih dalam negosiasi dagang yang tengah berlangsung dengan pihak Cina.

Terkait pernyataan dari Trump tersebut, bursa saham AS menguat di sesi awal perdagangannya. Namun saat salah seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Washington sama sekali tidak mempertimbangkan adanya kesepakatan semacam itu, pergerakan bursa AS sontak melemah seiring para pelaku pasar yang melepaskan sebagian dari keuntungan di awal perdagangannya.

Pada hari yang sama bank sentral Eropa memangkas suku bunga deposito mereka sebesar 10 basis poin dan sekaligus juga meluncurkan program baru mengenai pembelian obligasi. Selain itu ECB juga mengatakan bahwa pihaknya akan membeli aset senilai €20 milliar atau sekitar $22 milliar selama diperlukan.

Dalam konferensi persnya pasca keputusan tersebut, Presiden ECB Mario Draghi telah mendesak pemerintah Eropa untuk mengambil langkah-langkah fiskal guna melengkapi stimulus moneter dari bank sentral dan untuk menghidupkan kembali laju pertumbuhan ekonomi Eurozone.

Elias Haddad, ahli strategi mata uang senior di Commonwealth Bank Australia, dalam sebuah catatannya menyatakan bahwa klaim dari Mario Draghi yang mengatakan bahwa ECB dapat melakukan pembelian obligasi untuk jangka waktu yang lama tanpa adanya perubahan batas dari penerbitan obligasi tersebut, nampaknya tidak meyakinkan dan beliau menyarankan ECB untuk melakukan pembelian obligasi lebih cepat.

Akan tetapi Haddad menilai bahwa seikap kebijakan moneter dari ECB yang longgar, menjadi faktor penting bagi pergerakan pasangan mata uang EURUSD dalam jangka menengah.(WD)

Related posts