Bursa Saham Asia Bergerak Dalam Kencederungan Mixed

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak dalam kecenderungan yang bervariasi di sesi perdagangan pagi ini, terkait sejumlah saham yang mulai merilis laporan pendapatan kuartal pertama mereka. Indeks saham Nikkei Jepang sempat tergelincir di awal pembukaan perdagangannya akibat dari sejumlah saham kelas berat seperti Softbank Group dan Fanuc yang masing-masing turun sekitar 1%, namun saat ini indeks Nikkei menguat hingga sebesar lebih dari 0.35%.

Sementara itu indeks Kospi Korea Selatan membukukan kenaikan 0.44% sejak awal pembukaan perdagangannya, menyusul saham Samsung Electronics yang naik hingga 0.88%. Sedangkan bursa saham Australia dan Hong Kong ditutup terkait libur Paskah.

Kenaikan ini tidak terlepas dari sentimen positif yang ditunjukkan oleh pasar, seiring data GDP Cina di kuartal pertama yang memberikan indikasi pertumbuhan yang melebihi ekspektasi pasar sebelumnya. Selain itu kinerja bursa Wall Street pada hari Kamis pekan lalu, turut menjadi pendorong utama bagi pergerakan bursa saham di kawasan Asia.

Laju penjualan ritel AS di bulan Maret, dilaporkan naik 1.6%, yang merupakan kenaikan terkuatnya sejak September 2017, melebihi perkiraan kenaikan 0.9% dari para ekonom yang disurvei oleh Refinitiv. Selain itu musim earning report yang menunjukkan hasil yang lebih baik, ikut berkontri busi bagi kenaikan bursa Wall Street, sehingga memberikan sentimen positif bagi pergerakan bursa saham di kawasan Asia pada pagi ini.

Namun demikian serangkaian aksi teror yang mewarnai beberapa bagian di dunia, berpotensi memberikan hambatan bagi laju kenaikan pasar saham global. Aksi teror bom di sebuah gereja dan hotel di Clolombo, ibukota Srilanka, disinyalir dapat menjadi hambatan tersendiri bagi pasar ekuitas, khususnya di kawasan Asia.

Sedangkan serangkaian serangan udara dan ledakan bom di akhir pekan kemarin yang terjadi di Libya, justru berpeluang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Sejumlah pasar masih ditutup terkait libur Paskah di hari ini, diantaranya adalah Australia, Hong Kong, Jerman, Perancis, Italia, Selandia Baru Swiss dan Inggris.

Akan tetapi laju indeks Dollar masih terpantau stabil di kisaran 97.4, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendahnya di bawah 96.9 pada pekan lalu.(WD)

Related posts