Bursa Saham Asia Bergerak Lebih Tinggi Seiring Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia menguat di sesi perdagangan hari ini, seiring kenaikan yang dialami oleh bursa saham Wall Street pada sesi perdagangan semalam menjelang libur Independent Day di AS, yang didukung oleh semakin besarnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed menyusul rilis data yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Pada sesi perdagangan yang ditutup pada tengah hari waktu AS, pergerakan tiga indeks utama di Wall Street mencatat rekor penutupan tertingginya. Namun pasar saham di Cina Daratan justru bergerak ke zona negatifnya di tengah ketidakpastian perdagangan AS-Cina serta komentar Trump yang menduga adanya manipulasi nilai tukar mata uang. Akan tetapi bursa saham Hangseng hingga saat ini justru mencatat kenaikan 0.1%.

Dalam cuitannya di Twitter kemarin, Presiden Trump mengulangi seruannya untuk menyamai Cina dalam apa yang disebutnya sebagai permainan manipulasi mata uang dan sekaligus menyerukan untuk menggelontorkan uang ke dalam ekonomi AS.

Data dari Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan swasta di AS hanya mampu menambah lapangan kerja dalam jumlah yang lebih sedikit dari perkiraan para analis, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai pasar tenaga kerja yang akan mengalami pelemahan di tengah ekspansi ekonomi AS.

Noriko Miyoshi, kepala pendapatan tetap di Simplex Asset Management di Tokyo, mengatakan bahwa kenaikan pasar saham dan obligasi terjadi seiring pasar yang bertaruh terhadap penurunan suku bunga di European Central Bank dan Federal Reserve, sehingga mencatat kenaikan yang lebih cepat akibat para investor global yang bergegas untuk ambil bagian dalam perdagangan aset berisiko.

Sebagian besar pasar obligasi di Eropa mencatat penurunan imbal hasil obligasi Eurozone tenor10-tahun hingga ke rekor terendahnya, seiring para investor yang bertaruh terhadap sikap dovish bank sentral Eropa yang akan berlanjut. Ditunjuknya Kepala IMF, Christine Lagarde sebagai kandidat untuk menggantikan Mario Draghi sebagai Presiden ECB, telah memperkuat harapan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut jika diperlukan.

Fokus pasar pekan ini akan tertuju kepada data Non-Farm Payroll untuk bulan Juni, yang diperkirakan akan meningkat sebanyak 160 ribu, dari 75 ribu di bulan Mei. Selain itu Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan peninjauan permintaan lisensi dari perusahaan-perusahaan AS yang ingin mengekspor produk mereka ke Huawei Technologies, dengan pengawasan tingkat tinggi dari sisi keamanan nasional, seiring Huawei yang masih masuk dalam daftar hitam di AS. Dalam pekan mendatang para perwakilan dari AS dan Cina akan melakukan pertemuan guna melanjutkan pembicaraan perdagangan diantara keduanya.(WD)

Related posts