Header Ads

Bursa Saham Asia Bergerak Mixed Ditopang Data Sektor Jasa Cina

Bursa saham Asia bergerak bervariasi di sesi perdagangan Rabu ini, menyusul hasil survei lembaga swasta yang menunjukkan melonjaknya aktifitas di sektor jasa Cina, hingga ke level tertingginya dalam tiga bulan terkahir di Agustus lalu.

Saham-saham Cina daratan bergerak mixed di sesi perdagangan siang hari ini, menyusul indeks komposit Shanghai mencatat kenaikan 0.22%, sementara Shenzhen component justru melemah 0.24% dan Shenzhen composite juga mencatat penurunan 0.238%.

Caixin/Markit Services Purchasing Managers’ Index berada di angka 52.1 di bulan Agustus, angka tertinggi sejak Mei lalu.

Indeks saham Hangseng Hong Kong justru melonjak lebih dari 3% di sesi perdagangan hari ini, menyusul adanya laporan bahwa RUU ekstradisi yang dinilai kontroversial akan ditarik oleh pemerintah Cina.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam akan mengumumkan secara resmi mengenai penarikan dari undang-undang ekstradisi yang memicu protes di wilayah tersebut selama berbulan-bulan terakhir. Hal ini telah menimbulkan lonjakan di saham perusahaan yang mendapat sorotan terkait gejolak ini.

Saham operator kereta MTR, yang mendapatkan gangguan operasionalnya serta mengalami kerusakan sejumlah infrastruktur selama berlangsungnya demonstrasi, melonjak hingga 5.73%. Sementara saham maskapai penerbangan Cathay Pacific, yang ditinggalkan oleh CEO mereka yang mengundurkan diri beberapa pekan lalu, menguat hingga 7.21%.

Sebelumnya maskapai penerbangan tersebut mendapatkan tekanan secara politik dari Beijing setelah salah satu pilot mereka ditemukan ikut serta dalam protes yang berlangsung di Hong Kong tersebut.

Bursa saham Jepang juga memanfaatkan kenaikan di mayoritas pasar saham di kawasan Asia, dengan indeks Nikkei 225 yang mencatat kenaikan 0.12%, sedangkan indeks Topix justru mencatat penurunan hingga 0.26% menjelang penutupan perdagangan waktu Tokyo.

Pergerakan bervariasi di sebagian besar bursa saham kawasan Asia, tidak terlepas dari melemahnya saham-saham di Wall Street akibat dari data manufaktur AS yang mengalami kontraksi untuk pertama kalinya di bulan lalu, sehingga memicu kekhawatiran terjadinya resesi di AS.(WD)

Related posts