Header Ads

Bursa Saham Asia Mengawali Tahun Ini Dengan Positif

Pergerakan bursa saham di kawasan Asia pada sesi perdagangan awal tahun 2020 berada di kisaran kuatnya, didukung oleh pasar Cina menyusul Beijing yang melonggarkan kebijakan moneter mereka untuk mendukung laju perlambatan ekonomi.

Investor juga menyambut gembira berita yang mengatakan bahwa AS dan Cina akan menandatangani pakta perdagangan dalam waktu dekat, setelah selama berbulan-bulan melakukan negosiasi yang cukup alot antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang mencatat kenaikan 0.43%, setelah sebelumnya mencatat kenaikan 5.6% selama bulan Desember lalu.

Presiden A.S. Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa Fase 1 dari kesepakatan perdagangan dengan China akan ditandatangani pada 15 Januari di Gedung Putih, meskipun ketidakpastian masih melingkupi rincian tentang perjanjian tersebut.

Meningkatnya harapan untuk penyelesaian perang perdagangan AS-Tiongkok telah membantu mendorong ekuitas global mencapai rekor tertinggi akhir tahun lalu dan menekan nilai tukar Greenback.

Sementara indeks all-country world index, yang mencatat kinerja saham di 49 negara, telah berhasil menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada 27 Desember lalu.

Di bursa saham Cina, indeks bluechip CSI300, yang merupakan salah satu indeks dengan kinerja terbaik di dunia pada tahun lalu, mengalami lonjakan sebesar 1.86% hingga berada di level tertingginya sejak Februari 2018 lalu.

Para investor sangat antusias setelah bank sentral Cina mengatakan bahwa mereka akan memangkas jumlah uang tunai yang harus dimiliki bank sebagai cadangan, sehingga melepaskan sekitar 800 milliar Yuan atau setara dengan $114.9 milliar dana pinjaman, dan kebijakan ini akan diberlakukan secara efektif di pekan depan.

Meskipun ekonomi China telah mulai menunjukkan beberapa tanda-tanda bottoming out, namun para analis mengatakan bahwa hal tersebut belum menggambarkan bahwa ekonomi Cina telah keluar dari tekanan dan mereka mengharapkan laju pertumbuhan lebih lanjut dalam beberapa bulan kedepan.

Jim McCafferty, kepala penelitian ekuitas Asia-Jepang di Nomura di Hong Kong, mengatakan bahwa pemulihan permintaan terhadap produk memory chip dan pengembangan handset baru yang didukung oleh peluncuran teknologi mobile 5G yang dapat membantu mengangkat pasar ekuitas yang sangat berat seperti Korea Selatan dan Taiwan di tahun ini.(WD)

Related posts