Bursa Saham Asia Menguat Didukung Optimisme Terhadap Ekonomi Global

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatat kenaikan ke level tertingginya dalam dua bulan terakhir di sesi perdagangan hari ini, seiring ekspektasi stimulus yang memberikan dukungan bagi tingkat kepercayan investor terhadap laju pemuoihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang, mencatat kenaikan 0.4% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggiinya sejak 9 Maret lalu, sementara bursa saham Australia mencatat kenaikan 0.66% setelah Perdana Menteri negara tersebut meluncurkan paket stimulus keempat untuk memperbaiki perekonomiannya.

Bursa saham Cina sedikit berubah seiring kekhawatiran yang tersisa terkait ketegangan diplomatik antara AS dengan Cina.

Saat ini para investor tengah menantikan pertemuan dari para pemangku kebijakan Bank Sentral Eropa, dimana para pembuat kebijakan Eropa diperkirakan akan meningkatkan laju pembelian hutang untuk memberikan dukungan bagi negara terlemah di kawasan Eurozone.

Pasar aset berisiko telah mengalami keterpurukan akibat hantaman pandemi Covid-19 sehingga membawa pasar indeks saham global ke tingkat terendahnya yang belum pernah terlihat sebelum adanya wabah virus corona.

Saat sesi penutupan perdagangan waktu AS semalam, indeks utama Nasdaq Composite, S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average hampir mendekati level tertingginya sepanjang masa yang tercatat pada bulan Februari lalu.

Salah seorang ekonom senior di ANZ Research, Liz Kendall bersama ahli strategi David Croy dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa penyediaan likuditas oleh bank sentral serta ekspektasi terhadap adanya likuiditas yang lebih banyak, telah membantu memberikan dukungan bagi pasar aset berisiko baru-baru ini.

Pasar saham Hong Kong dibuka dengan mencatat kenaikan namun saat ini terpantau melepaskan keuntungan awalnya dan diperdagangkan 0.12% lebih rendah akibat kekhawatiran mengenai rencana pemerintahan Beijing untuk memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional yang baru untuk wilayah bekas jajahan Inggris tersebut.

Saat ini pemerintahan di seluruh dunia telah mulai melakukan pelonggaran kebijakan lockdown secara bertahap yang sebelumnya dilakukan untuk meredam pandemi virus corona yang telah menginfeksi hampir 6.4 juta orang serta menewaskan lebih dari 370 ribu orang di seluruh dunia.

Para pelaku pasar saat ini tengah menunggu laporan ketenagakerjaan dari Departemen Tenaga Kerja AS di hari Jumat besok, yang diperkirakan akan menunjukkan tingkat pengangguran AS yang melonjak hingga hampir 20% dari 14.7% pada bulan April lalu.(WD)

Related posts