Bursa Saham Jepang Ditutup Naik Didukung Pelemahan Yen

Pada sesi penutupan perdagangan Tokyo Stock Exchange, pasar saham Jepang melonjak seiring pelemahan Yen terhadap Dollar yang didukung data ekonomi AS yang solid pada Kamis malam kemarin. Indeks saham rata-rata Nikkei naik 1.02% ke 21602, setelah sebelumnya turun hingga lebih dari 170 poin. Sedangkan Indeks Topix, menguat 0.5%, setelah jatuh 12.76 poin pada perdagangan sebelumnya.

Para investor melakukan aksi beli sejak pembukaan perdagangan tadi pagi, seiring USDJPY yang bergerak ke 111.50 pasca rilis data GDP AS yang lebih kuat dari perkiraan selama periode Oktober-Desember, serta Chicago PMI Februari yag membantu meningkatkan sentimen di pasar Tokyo.

Selain itu sejumlah kalangan menilai bahwa keputusan Kantor Perwakilan Perdagangan A.S yang mengumumkan akan menunda tenggat waktu kenaikan tarif tambahan impor Cina, hingga adanya pemberitahuan lebih lanjut dari pihak Washington.

Ditambah lagi aksi risk appetite yang terjadi di lantai bursa New York, pada sesi perdagangan Kamis, sehingga mengangkat pergerakan pasar euitas di kawasan Asia.

Saham eksportir banyak diuntungkan dengan melemahnya Yen, diantaranya Tokyo Electron yang mendapatkan keuntungan dari unit semikonduktor hingga 1.55%, produsen robot industri, Fanuc yang meraih gain 1.93% serta Yaskawa Electric yang berhasil melonjak 2.69% di sesi penutupan perdagangan sore ini. Termasuk juga pengecer pakaian Fast Retailing serta SoftBank Group yang berhasil meraih keuntungan di penutupan perdagangan sahamnya.

Selain itu sejumlah eksportir justru mengalami tekanan seiring kinerja sahamnya yang kurang solid, seperti perusahaan pengapalan, Mitsui O.S.K Kines yang jatuh hingga 2.22%, Kawasaki Kisen 2.86% serta Nippon Yusen yang anjlok 1.20%. Sementara dalam perdagangan indeks berjangka Osaka Exchange, indeks rata-rata Nikkei kontrak Maret naik 230 poin dan di tutup di 21260.

Kawasan Asia menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir ini, menyusul pertemuan KTT antara Presiden Donald Trump dengan Presiden Kim Jong-un, yang difasilitasi oleh pemerintah Vietnam, yang pada akhirnya tidak melahirkan kesepakatan apapun diantara keduanya. Meskipun masih menyisakan kekhawatiran konflik geopolitik terkait nuklir Korea utara, akan tetapi setidaknya pertemuan kedua kepala negara menjadi awal dari membaiknya hubungan Washington dengan Pyongyang.(WD)

Related posts