Header Ads

Bursa Tokyo Dibebani Kekhawatiran Terhadap Trade War AS-Cina

Bursa saham Tokyo memperpanjang kerugiannya di sesi penutupan perdagangan hari Rabu, akibat kekhawatiran investor terhadap masih tingginya eskalasi perang perdagangan AS-Cina di tengah berlakunya RUU Senat AS untuk mendukung para demonstran pro-demokrasi di Hong Kong.

Pasar Tokyo turun sejak awal sesi perdagangan waktu Asia setelah indeks Dow Jones Industrial Average yang menghentikan kenaikan ke rekor tertingginya dalam dua sesi perdagangan beruntun akibat laporan penghasilan yang suram dari sektor ritel utama AS.

Meskipun aktifitas “buy on dip” dilakukan oleh sebagian investor guna membantu pasar memulihkan kerugian awal, namun sentimen pasar dengan cepat mereda setelah Kementerian Luar Negeri Cina mengeluarkan pernyataan yang mengecam RUU HAM di Hong Kong, sekaligus mengeluarkan ancaman untuk membalas tindakan dari pihak AS.

Selain itu bursa Tokyo juga terbebani oleh kinerja buruk dari bursa saham Shanghai dan Hong Kong, sehingga indeks Nikkei dan Topix tetap berada di wilayah negatif sampai sesi penutupan perdagangan waktu Jepang.

Hiroaki Kuramochi selaku kepala analis pasar di Capital Partners Securities Co, mengatakan bahwa saham Tokyo menderita akibat kekhawatiran yang meningkat mengenai perlambatan pengeluaran pribadi di AS selain masalah tagihan di Hong Kong, sembari mengutip hasil laba yang lemah dari perusahaan pemimpin operator department store AS, Kohl’s Corp dan jaringan pengecer perbaikan rumah Home Depot Inc.

Sementara itu seorang pejabat di sebuah pialang berskala menengah, mengatakan bahwa reaksi keras dari pemerintah Cina terhadap RUU pro-demokrasi telah menyebabkan pasar mengalami kejatuhan.

Nilai saham pembuat mesin kontruksi Komatsu dan produsen robot industri Fanuc, melemah terkait permasalahan di Cina di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perang perdagangan. Selain itu produsen ban Bridgestone jatuh dalam delapan sesi perdagangannya berturut-turut, serta jaringan toko pakaian Fast Retailing dan investor teknologi Softbank Group juga kehilangan landasan.(WD)

Related posts